Posted in bahasa, Cerita Pendek, oneshoot, short story

Cerpen; Morning Sun

Morning Sun,’ sapa Albert seraya menghampiri Sunday yang membuka pintu kafe.

Morning Al,’ Sunday menjawab sapaan Albert sambari menengok sekeliling. Kafe masih sepi untuk ukuran hari Minggu. Sedikit tidak biasa dan orang yang dicarinya tidak ada—atau belum datang.

‘Pagi-pagi udah ke sini, mau kencan sama Pak Boss?’ tanya Albert setengah menggoda. Sunday hanya meringis sebagai jawaban. ‘Beliau belum dateng tuh?’

Sunday melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya, hadiah ulang tahun dari sang kekasih beberapa bulan yang lalu.

‘Kebiasaan terlambat. Menyebalkan,’ gumam Sunday.

‘Mau ditunggu di dalam?’ tanya Albert dan disambut anggukan Sunday. ‘Pesen seperti biasa?’

‘Boleh, sama 1 croissant ya,’

‘Sip.’

Baca selengkapnya Morning Sun

Posted in bahasa, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, oneshoot

Songfiction; Michelle Branch – Goodbye to You

Susan meringis menahan sakit ketika jarum menembus kulitnya, sesekali Matthew, si tukang tato mengusap darah yang merembes keluar.

‘Kau nggak takut Ibumu?’ tanya Matthew ditengah-tengah kesibukannya merajah sisi luar lengan kanan atas Susan.

‘Dia nggak akan bisa berbuat apapun kalau aku pulang dengan tato di tangan dan aku juga nggak peduli. Aku bukan anak kecil lagi.’

‘Tentu,’ Matthew tertawa, seraya mengusap darah di lengan Susan. ‘Paling beliau akan kemari dan mengancam akan menutup salonku.’

‘Dan dia akan tahu kalau usahanya sia-sia,’ tambah Susan sambil tertawa.

‘Kau benar-benar akan pergi?’ tanya Matthew lagi.

Susan mengangguk. ‘Ini kesempatan sekali seumur hidup Matt, do or die,’

Baca selengkapnya Goodbye to You

Video oleh Warner Bros. Records

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, oneshoot, short story

Cerpen; “Lunch”

fa47fc7a562e998f166d39300a43660e

Tok tok tok

‘Halo, masih sibuk?’ tanya Yuan sambil melongok dari pintu yang setengah terbuka.

Ji yang sibuk dengan desainnya mendongak, tersenyum melihat sahabatnya datang berkunjung.

‘Aku selalu sibuk,’ jawab Ji.

‘Yeah, rasanya aku nggak pernah melihatmu bersantai,’ Yuan menjulurkan lidah lalu mengangkat tangan kanannya, ‘makan siang~’

Ji tertawa, kali ini ia meninggalkan peralatan gambarnya dan bangkit menyambut Yuan dan makan siang yang dibawanya.

‘Aku tahu kau akan menolak kalau kubilang kita makan siang di luar,’

You know me so well,’ Ji kembali terkekeh.

‘Kayaknya itu judul lagu?’

Ji mengangkat bahu, melewati Yuan, ia membuka kulkas dan mengambil dua botol air putih sedangkan Yuan mengeluarkan kotak makan siang dan menatanya di meja.

‘Ini untuk musim kapan?’ tanya Yuan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di satu dinding dipenuhi foto-foto desain, di pojok ruangan ada setumpuk kain contoh, bersebelahan dengan mannequin yang berlimpangan. Pita, renda dan berbagai asesoris yang lain menggunung di sudut  yang lain.

‘Musim semi dan panas tahun depan.’ Jawab Ji pendek, meletakkan dua botol air putih di meja, Ji menarik kursi di seberang Yuan, meneliti menu makan siang yang dibawakan Yuan. ‘Jenius sekali kau, sudah lama aku ingin makan sushi,’ komentar Ji.

Yuan mendengus. ‘Aku juga heran kenapa bisa berteman dengan manusia pelit sepertimu, pengin makan sushi saja nunggu dibelikan teman.’

‘Aku bukannya pelit, kau tahu kan aku sibuk, akan ada launching flagship-store baru juga.’ Ujar Ji membela diri.

‘Alasan,’ cibir Yuan. Ji hanya mengangkat bahu tidak peduli, aneka sushi di depannya ini lebih menggoda daripada beradu argumen dengan Yuan. Dengan segera Ji merobek bungkus sumpit dan memecah alat makan terbuat dari bambu tersebut menjadi dua untuk mulai menikmati makanan idaman gratis.

‘Lima tahun,’ ucap Yuan tiba-tiba.

Ji yang masih fokus dengan aneka sushi di hadapannya sontak mengangkat kepala. Yuan duduk dikursinya sambil bertopang dagu, ia belum menyentuh makan siangnya sama sekali dan hanya memperhatikan Ji memindahkan sushi satu per satu dari kotak ke mulutnya.

‘Ada apa dengan lima tahun?’ tanya Ji seraya meraih botol air putih, membuka tutupnya dan meneguk cairan di dalamnya kemudian meletakkan kembali ke meja.

‘Aku nggak tahu harus senang atau sedih melihatmu seperti ini.’ Lanjut Yuan. ‘Di satu sisi aku melihatmu mengatasi rasa sakit dengan baik tapi di sisi lain kau hidup dalam kenangan dan rasa sakit itu sendiri.’

‘Ah…. Jadi kau melihatnya seperti itu?’ Ji tertawa kecil. ‘Aku baik-baik saja, aku menikmatinya.’

Yuan menghela napas, diakui atau tidak ia prihatin terhadap sahabatnya, kenapa ia memilih jalan ini?

‘Sampai kapan kau akan terus begini?’ tanyanya.

‘Maksudnya?’

‘Menggunakan rasa sakitmu sebagai kekuatan untuk hidup.’

Ji tersenyum sebelum menjawab;

‘Kau tahu semua hal yang terjadi pada diri kita sebenarnya tidak ada yang buruk, hanya tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Tentu, amat sangat menyakitkan ketika kau kehilangan seseorang, apalagi seseorang yang seharusnya menjadi putra pertamamu. Kau tidak akan pernah bisa membayangkannya. Berulang kali bertanya pada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan? Kenapa? Kenapa Tuhan mengambilnya disaat aku sangat membutuhkan dia untuk menyelamatkan pernikahan kami. Apa salahku?

‘Tapi kemudian aku sadar, inilah yang terbaik, coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ia lahir, lalu, belum genap ia berusia tiga tahun dan orang tuanya bercerai. Disaat ia membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, ia hanya mendapat dari satu sisi. Bagus kalau tidak ada efek negatif untuk psikologisnya kelak, bagaimana jika ia sampai trauma atau semacamnya? Bukankah itu lebih menakutkan?’

‘Mungkin saja jika ia lahir, pernikahanmu akan punya akhir yang berbeda,’ kata Yuan.

‘Dan membuatnya terpaksa tinggal hanya karena anak? Tidak terima kasih.’ Ji menggeleng. ‘Kalau dia ingin tinggal, aku ingin karena memang dia benar-benar ingin tinggal bukan tinggal karena sesuatu. Bagiku, sebelum memberi anak kebahagiaan, orang tua haruslah bahagia terlebih dulu, kalau tidak, bagaimana mereka akan tahu perasaan seperti apa yang hendak mereka berikan pada anaknya?

‘Aku merasa dengan begini aku bisa tumbuh bersamanya, melihat ibu-ibu muda begitu bahagia dan puas ketika melihat anak-anak mereka terlihat cantik dan tampan dengan memakai rancanganku, itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga untukku. Aku merasa melihat anakku sendiri memakai baju-baju yang kubuat.’

‘Benar juga,’ Yuan menarik tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi. ‘Tapi Ji, sudah lima tahun, kau masih belum merelakannya juga?’

‘Siapa bilang?’ Ji bertanya balik. ‘Darimana kau dapat ide kalau aku belum merelakannya?’

‘Hari-hari kau mengurung diri di sini, tidak berkencan, tidak membuka diri—‘

‘Itu!’ seru Ji seraya menunjuk Yuan. ‘Tuduhan yang salah dan tidak berdasar. Aku mengurung diri di sini bukan berarti aku tidak membuka diri.’

Yuan nyaris meloncat begitu mendengar pembelaan diri Ji.

‘Apa ini? Kau berkencan dengan siapa? Apa aku tahu orangnya?’ berondong Yuan. Ji tidak menjawab dan hanya tersenyum jahil. ‘Ah…. Nggak seru nih, pelit amat, pakai rahasiaan segala.’ Ji tertawa. ‘Inilah yang paling aku suka dari dirimu adalah sikap positifmu Ji.’

‘Tuhan sayang pada orang-orang yang berpikir positif. Negativity nggak akan membawamu kemana-mana,’ Ji tertawa makin lebar.

‘Betul, betul,’ Yuan mengangguk setuju. ‘Jadi…. Kapan nih aku dikenalin?’

Lagi-lagi Ji tidak menjawab, ia meraih botol air putih dan mengedipkan sebelah matanya.

‘Terlalu banyak ingin tahu itu nggak baik Yu,’

 


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.

 

 

 

 

Posted in bahasa, book, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, fanfiction, oneshoot, short story

Songfic; Michelle Branch – Goodbye To You

Susan meringis menahan sakit ketika jarum menembus kulitnya, sesekali Matthew, si tukang tato mengusap darah yang merembes keluar.

‘Kau nggak takut Ibumu?’ tanya Matthew ditengah-tengah kesibukannya merajah sisi luar lengan kanan atas Susan.

‘Dia nggak akan bisa berbuat apapun kalau aku pulang dengan tato di tangan dan aku juga nggak peduli. Aku bukan anak kecil lagi.’

‘Tentu,’ Matthew tertawa, seraya mengusap darah di lengan Susan. ‘Paling beliau akan kemari dan mengancam akan menutup salonku.’

‘Dan dia akan tahu kalau usahanya sia-sia,’ tambah Susan sambil tertawa.

‘Kau benar-benar akan pergi?’ tanya Matthew lagi.

Susan mengangguk. ‘Ini kesempatan sekali seumur hidup Matt, do or die lah,’

 

Baca selengkapnya Goodbye To You

video oleh Warner Bros. Records

Posted in bahasa, book, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, fanfiction, kai, Kris Wu, Luhan, oneshoot, short story

Songfic; Kris Wu – July

Kris memarkir mobil disalah satu sudut tempat parkir yang sepi. Dengan cepat mengenakan masker dan tudung jumpernya hingga wajahnya nyaris tak terlihat. Untuk beberapa saat ia mematut diri melalui kaca spion, memastikan jika wajahnya cukup terlindungi dan tidak dikenali, terima kasih jumper longgar, kau membuat semuanya semakin mudah, Kris menyeringai puas.

Dari sudut matanya ia melihat ponselnya kembali berkedip-kedip. Pangilan masuk. Seringai di wajah Kris makin lebar. Sejak satu jam yang lalu, ia sengaja ‘mendiamkan’ ponselnya dan benda itu tidak pernah berhenti berkedip-kedip, mengindikasikan panggilan dan pesan yang masuk—tidak pernah berhenti.

Tangannya hendak meraih handle pintu mobil setelah menutup kaca ketika ia melihat seorang anak muda berjalan tergesa-gesa dengan kedua mata fokus ke ponsel yang dipegangnya.

Anak muda itu berdandan nyaris seperti dirinya, hanya saja tidak memakai jumper, melainkan topi, jaket tebal, syal tebal melilit leher dan tidak ketinggalan, masker wajah! Seringai lebar di wajah Kris berubah menjadi senyum geli, ternyata pemberitaan media tidak salah, anak muda itu benar-benar tengah dimabuk cinta.

Bagaimana Kris tahu?

Baca selengkapnya July

Video courtesy Kris Wu

Posted in bahasa, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, fanfiction, oneshoot, short story

Songfic; Luhan – Catch Me When I Fall

Kevin nyaris muntah ketika bau alkohol menginvasi indra penciumannya saat ia membuka pintu kamar hotel. Luar biasa, kamar yang seharusnya berbau wangi dan segar bisa beraroma seperti ini. Entah harus membayar charge berapa kalau ada staff hotel menemukan kamar suite mereka berubah menjadi gudang alkohol, bisa jadi mereka langsung menendang keluar penghuni kamar ini. Hidungnya bahkan sudah tidak bisa mengenali bau minuman merek apa, yang jelas campuran bau bir, wine dan liquor mungkin juga aroma keputusasaan si penghuni kamar juga. Semoga saja penghuni kamar ini tidak mati keracunan.

Tidak.

Penghuni kamar ini tidak mati.

Kevin menghela napas ketika menemukan Kris duduk bertopang dagu di konter minibar. Rambutnya berantakan, jumpernya lusuh, celana trainingnya yang satu digulung hingga selutut yang satunya dibiarkan sampai  menutupi kakinya, tidak ada slipper di dekatnya, ia bertelanjang kaki.

Sekali lagi Kevin menghela napas.

Pria ini, sahabat atau yang biasa ia katakan sebagai saudara beda Ibu ini benar-benar hancur.

Baca selengkapnya Catch Me When I Fall

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, oneshoot, short story

Cerpen; Bunga Rampai “Seragam oh Seragam”

‘Tidakkah kalian pikir itu terlalu panas? Bagian kita mungkin sekitar jam 12 siang.’ Kata Siwi.

‘Kebanyakan dari cewek di sini berkerudung.’ Sanggah yang lain.

‘Jadi?’ tanya Siwi.

‘Hormatilah yang berkerudung!’ salah seorang anak yang lain menimpali dengan suara tinggi.

‘Maksudmu minoritas harus menghormati mayoritas begitu? Aturan darimana itu?’ nada suara Siwi pun  mulai ikut meninggi.

‘Sudah-sudah,’ lerai sang danton,  Dewi. ‘Siwi ada benarnya, giliran kita jalan pasti sedang panas-panasnya—‘

‘Tapi kita semua berkerudung. Apa kami harus melepas kerudung demi baris?!’ potong Eka—si penggagas ide memakai kerudung—sengit.

Baca Selengkapnya Seragam oh Seragam

Dirgahayu Indonesia ke-71 MERDEKA!

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, oneshoot, short story

Cerpen; Dalam Secangkir Kopi

‘Kenapa to Le[1], kok cemberut gitu?’ tanya wanita tua yang sibuk memetik biji kopi, sesekali beliau melirik cucu yang bersungut-sungut di sebelahnya.

Ndak apa-apa Nai Nai[2] cuman kesel aja,’ jawab si cucu, Bill, ia menarik ujung dahan kopi yang tinggi sehingga Nai Nai dengan mudah memetik biji-biji kopi yang sudah masak.

Lha ya itu, kesel kenapa? Apa kamu ndak suka bantuin Nai Nai?’ tanya Nai Nai lagi.

‘Bukan itu, aku ndak suka dengan keputusan Papa,’ jawab si cucu, sambil merengut.

Nai Nai tertawa mendengarnya, dilihatnya si cucu sekali lagi, ia sudah tumbuh menjadi pemuda tampan berusia 28 tahun, namun ia masih seperti anak kecil jika merajuk. Ditepuknya bahu Bill dan mengajak cucunya duduk di bawah kerindangan pohon kopi.

Baca Selengkapnya Dalam Secangkir Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

___________

[1] Panggilan untuk anak laki-laki (Jawa).

[2] Panggilan untuk Nenek dari pihak Ayah (Cina)

Posted in fanfiction, For Us, kai, oneshoot

For Us

The view outside the patio was breathtaking and that was the reason Krystal could not tear her gaze from there. Creamy white waved gently caressed the seashore time after time, while there, in the distant, the clear blue sky met with the deep blue sea water at the horizon. Two cups of hot chocolate

So peaceful in here.

Krystal turned her head when she heard the glass door behind her slide open.

‘Hey, there you’re,’ Kai approached her and took the seat at the empty chair next to the coffee table. ‘Don’t you feel cold?’

Krystal rubbed her arms and all of sudden the spring breezy felt colder.

‘You shouldn’t have mentioned that, now it felt cold,’ she pouted.

Kai laughed and he stood up to take off his cardigan and draped it onto Krystal’s shoulder.

‘Better?’ he asked. Krystal nodded. ‘Good.’ With that Kai sat back down to his chair.

‘Don’t you felt cold yourself?’ Krystal asked.

‘I’m wearing long sleeves sweatshirt, ok?’ Kai raised his arm to show his long sleeved arm.

‘But you’re wearing short,’ Krystal pointed his army knee length short.

‘It’s okay though,’ Kai shrugged.

Both of them fall silent, they were simply enjoyed each other presence, the moment that they usually share when they did not have anything to say.

‘Are you happy?’ Kai asked after sometimes of silence. Krystal nodded as she sipped her hot chocolate. ‘Are you still happy if we’re married?’

Read more For Us