Posted in bahasa, book, fiction, novel, 兰Lán

Novel; 兰Lán Bab 3

Novel; 兰Lán, Royal Park Bersaudara 1. Daftar Isi

Untuk membaca bab selanjutnya sila berkunjung di sini


MATA RAN MEMBULAT horor ketika ia mendapati A Wei duduk bersedekap di depannya. Ran mengedarkan pandangan ke sekeliling, tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Semoga tidak ada yang mendengar A Wei memanggilnya Xiaohua.

Mabuk apa dia hingga muncul di sini?

Ah Ran lupa, ini A Wei, seseorang yang paling tidak bertanggung jawab dan suka semaunya, apa yang dia inginkan, itulah yang ia dapatkan.

Satu hal yang pasti, hari ini ia melupakan ajaran Mr Fong, ajaran yang ternyata tidak hanya berguna dalam menjalankan tugasnya sebagai waitress tapi seharusnya berguna juga menghindari seseorang, seperti saat ini. Seandainya.

Fokus terhadap tugas yang kau kerjakan namun kedua matamu harus tetap mengawasi setiap tikus yang berlarian di dalam restoran.

Hal itulah yang ia lupakan hari ini, karena itu ia sampai tidak menyadari kehadiran A Wei di sini.

Menyebalkan!

‘Apa yang kau lakukan di sini?’ tanya Ran dengan mata menyipit tidak senang. He can be anywhere but here!

A Wei tidak mengindahkan pertanyaan Ran, malah menelengkan kepala, membaca name-tag gadis itu.

‘Ran Li, enggak ada nama yang lebih aneh lagi?’

Mata Ran berkilat karena marah, ini orang tidak bisa ya tidak memprovokasi? Seperti Wu Longwei adalah nama terbaik di dunia saja, ha!

‘Nama apa yang kupakai bukan urusanmu,’

Ran berusaha keras untuk mengontrol emosinya. Ia sedang bekerja, membiarkan emosinya yang menang berarti membiarkan si naga sial ini senang kalau melihat dia terkena marah seniornya. Ran tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Silakan memprovokasi, tapi dia tidak akan terpancing. Semoga.

‘Xiaohua—‘

‘Kau akan menyesal kalau tetap memanggilku begitu,’ desis Ran jengkel.

‘Lalu aku harus memanggilmu bagaimana?’ tanya A Wei geli. ‘Kau tidak mungkin berharap aku memanggilmu Ran kan?’

‘Itu namaku,’ sahut Ran.

‘Jadi, sekarang kau juga berbohong soal nama? Ayahmu tahu akan hal ini?’ kening A Wei berkerut dan matanya menyipit ketika bertanya.

‘Bukan urusanmu!’

A Wei mencebik lalu mengangkat bahu. ‘Ya, kau benar, bukan urusanku. Aku hanya tidak menyangka, seseorang yang kukenal ternyata pembohong. Kukira kita sama-sama berpendapat jika tidak ada kebaikan dalam kebohongan.’

Jika Ran jeli, ada kilatan terluka di mata A Wei namun pria itu mengenyahkannya sebelum Ran menyadari hal tersebut walau Ran masih menangkap nada kecewa di suaranya. Gadis itu membuka mulut, berniat untuk membela diri ketika Chong Ching muncul dengan tray berisi pesanan A Wei.

‘Maaf membuat Anda menunggu, Spice burger dan Spice matcha frappuccino, sir,’ kata Chong Ching sambil meletakkan piring dan gelas di depan A Wei.

A Wei mengangguk dan menggumamkan terima kasih namun Ran bisa merasakan jika perhatian A Wei justru fokus pada Chong Ching dan dirinya. Chong Ching memang belum berkata apapun mengenai dirinya yang berdiri di depan A Wei daripada mengerjakan tugasnya menata meja namun tatapan matanya seolah bertanya, apa semuanya baik-baik saja? Apa pria ini menganggumu? Mungkin A Wei merasakan hal yang sama.

‘Selamat menikmati sir, jika membutuhkan hal lain, silakan memanggil saya,’ tambah Chong Ching. Lagi-lagi A Wei hanya menggumamkan oke dan terima kasih membuat Ran benar-benar ingin menendang pria itu. Dasar tuan muda sombong.

‘Kata Kak Manshi kau bisa istirahat lebih awal. Biar aku selesaikan yang di sini,’ bisik Chong Ching pada Ran ketika meninggalkan meja A Wei.

Ran spontan menoleh dan berkata tanpa suara, benarkah?

Chong Ching tersenyum sambil menunjuk Manshi yang sibuk di konter kasir, seolah menyuruh Ran untuk bertanya pada sang kapten sendiri.

‘Ternyata pegawai dimana-mana sama saja ya, hanya rajin kalau ada atasan. Lepas dari pengawasan sebentar saja flirting sana-sini,’ gumam A Wei dengan nada mengejek, meski pelan namun cukup jelas di dengar Ran.

Tidak ingin merusak mood-nya yang meroket akibat diperbolehkan pulang lebih pagi—lumayan lho pulang setengah jam lebih awal—Ran memutuskan untuk tidak merespon A Wei dengan reaksi yang A Wei inginkan malahan ia melihat sekeliling, memastikan jika mereka berdua tidak ada yang memperhatikan dan tidak berada dalam jangkauan kamera CCTV lalu ia menunduk, berbisik di telinga A Wei;

‘Selamat menikmati, zai jian (selamat tinggal),’

Bisikan tersebut diakhiri dengan kecupan di pipi A Wei, dengan cepat menegakkan tubuh seolah tidak terjadi apa-apa lalu meninggalkan meja A Wei dengan dagu terangkat tinggi-tinggi.

  • ha!

Sebenarnya dia sangat ingin menoleh ke belakang, melihat reaksi A Wei, namun harga dirinya tidak mengizinkan.

‘Kak Manshi!’ kapten paling senior di Spice tersebut mendongak lalu melanjutkan menyelesaikan laporannya. ‘Kata Chong Ching aku boleh pulang lebih awal,’

Then why still here what? Go already, you said you have too many assignments to submit today,’ jawab Manshi tanpa mengalihkan perhatiannya dari menghitung kupon breakfast di tangannya.

‘Ini baru aku mau pergi,’ jawab Ran sambil nyengir bodoh. ‘Aku pergi ya, bye Kak, bye Auntie Shirley,’ pamit Ran pada Manshi dan kasir Spice, Auntie Shirley.

Yeah, terima kasih Adik!’ seru Manshi.

Be careful on your way Girl,’ Auntie Shirley melambaikan tangan ketika Ran meninggalkan konter kasir.

‘Hei Ran,sudah mau pulang?’ tanya Yuan, dia masih sibuk membereskan sisa-sisa breakfast sekaligus menyiapkan lunch.

Ran mengangguk penuh semangat. ‘Yup! Hari ini hanya membantu Kak Manshi.’

‘Kau baik sekali,’ komentar Yuan. Ran hanya tertawa mendengarnya. ‘Ngomong-ngomong, punyamu di bawah,’ ia menelengkan kepala ke arah kabinet di bawahnya.

Ran nyengir lebar, tanpa buang-buang waktu ia membuka kabinet di bawah meja kerja Yuan, tiga buah croissant sandwich dibungkus coaster, nice!

‘Awww…. Terima kasih ya. Aku pulang duluan ya, mingtian jian…. (sampai jumpa besok)’

Ran pulang dengan hati riang, bagaimana tidak, pulang lebih awal, saku apron-nya penuh dengan sandwich. Berpamitan pada semua pegawai yang ditemuinya, Ran turun ke ruang loker. Dengan sisa waktu setengah jam sebelum jam absen, ia punya banyak waktu untuk mempersiapkan tugas-tugasnya.

Kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah tapi so far so good. Capek memang tapi semua itu pantas. Lagi pula ini adalah impiannya sejak kecil. Kuliah dan bekerja maksudnya. Ran selalu membayangkan betapa kerennya menjalani kehidupan seperti di drama TV. Hanya saja ia mendapatkan yang lebih baik dari sekedar yang ia ada di drama, pekerjaan yang lebih baik, rekan-rekan kerja yang pengertian, mereka biasanya dengan senang hati bertukar shift dengannya jika ada sesuatu hal yang penting yang berurusan dengan kampusnya. Gestur Yuan hari ini yang dengan sengaja menyiapkan sandwich untuknya adalah salah satu kenapa ia merasa sangat beruntung bertemu semua orang yang bekerja di Spice.

 

Advertisements
Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 1. Sesal

SESAL.

Hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan perasaan Bi saat ini. Bukan situasi seperti ini yang diharapkan ketika ia memutuskan untuk pulang. Bi tidak bisa menghapus ingatannya akan wajah sang Ibu ketika ia mengatakan dirinya telah berpisah dengan sang kekasih—sekarang mantan. Mengatakan beliau marah rasanya masih kurang tepat karena hampir bukan itu yang terjadi.

Dengan wajah dingin beliau mengatakan;

‘Kita akan makan malam dengan Keluarga Li. Kau selalu berkata kalau kau sudah dewasa jadi kurasa aku tidak perlu mengatakan apa yang harus kau lakukan bukan?’

Luar biasa.

Bukan saja ia telah kehilangan rumah, baiklah, tidak kehilangan karena ia memang dengan sengaja menjual rumah tersebut. Ketika hubungannya dengan sang kekasih berakhir, Bi tidak yakin untuk tetap tinggal di Geneva. El telah pulang ke kampung halaman sejak satu tahun yang lalu untuk membuka kafe dan toko kue impiannya. Kontrak kerjanya dengan rumah produksi teater pun telah berakhir, ia juga tidak berniat untuk memperpanjang masa kerjanya.

Jadi praktis, pengangguran, putus cinta, tidak ada tempat tinggal. Bukankah semua itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk membuatnya pulang?

Ya, amat sangat cukup.

Kalau dilihat sekilas, hidup Bi cukup menyedihkan padahal kenyataannya jauh dari kata-kata menyedihkan—mungkin kecuali sekarang dia harus berurusan dengan sang Ibu soal perjodohan.

Perjodohan?

Tentu saja, apalagi?

Makan malam dengan keluarga xxx adalah ungkapan lain dari, kau kujodohkan dengan xxx.

Karena itulah Bi menyesali keputusannya untuk pulang. Sejujurnya ia lebih baik kena semprot si sepupu, Dee, jika harus absen dari pernikahannya minggu depan daripada terjebak dalam urusan perjodohan begini.

Damn.

Perhatian Bi teralihkan ketika ponselnya berdering, El.

Yes?’ ia menghidupkan loudspeaker untuk menjawab teleponnya sementara ia melanjutkan berdandan.

‘Aku hanya ingin tahu keadaanmu dan, meski aku nggak suka ini, tapi aku tidak bisa tidak bertanya-tanya, kau baik-baik saja kan? Semuanya oke kan?’ tanya pria dari seberang.

Thank you El. Dan meski aku benar-benar ingin mengatakan aku ingin lompat ke jurang demi menghindari ini semua, rasanya aku tidak akan melakukan itu. Aku mencintai hidupku lebih dari apapun,’ Bi tertawa miris.

El juga tertawa di seberang, Bi tidak berubah, ia masih suka sarkasme. Tidak diragukan lagi.

‘Kuharap aku bisa membantumu,’

‘Pastikan kau ada untukku nanti malam, bisa di telepon atau bertemu langsung, aku akan sangat berterima kasih.’ Kata Bi. Ia menambahkan maskara sekali lagi sebelum mematut diri untuk kesekian kalinya, memastikan make-up-nya sudah benar. Meski ia tidak suka, ia tidak bisa pergi dengan muka gembel. Ia juga punya harga diri, walau pikiran untuk mempermalukan keluarganya selalu menggoda.

‘Katakan apa yang bisa kulakukan,’ kata El.

Bi meringis, Tuhan memang adil, jadi, bagaimana ia bisa mengeluh hidup ini kejam jika di saat seperti ini masih ada seseorang yang bisa ia andalkan?

‘Pasti, nanti kukabari. Tapi El, aku benar-benar harus pergi sekarang,’

Sebenarnya belum, ia belum ganti baju, hanya menyelesaikan make-up dan tatanan rambut, namun ia tidak akan membiarkan ponselnya dalam keadaan hidup dan El akan mendengarnya berganti pakaian bukan?

‘Baiklah, satu pesanku, jaga emosimu, jangan berbuat hal konyol.’

Bi tertawa mendengarnya.

‘Aku serius,’ kata El lagi.

I know,’

Well, good luck Baby. Telepon aku begitu kau selesai ok?’

‘Oke, and thanks, you know I need very best luck there is,’ kata Bi sambil menghela napas berat. Life indeed is suck.

‘Hey, jangan sedih dong. You know I love you right?’ Bi tertawa. ‘Cheer up ok? I’m here, always.’

I love you too El,’

Telepon ditutup.

Bi masih mematung di depan meja riasnya. Ia sedang menatap bayangan dirinya, ah, anggaplah ini sebagai salah satu petualangan, batinnya. Bi bangkit dan meraih gaun pendek hitam yang telah ia siapkan di kasur, gaun yang sederhana untuk wanita sekelas Bi.

Andai hidupnya sesederhana gaun ini.

Sigh

***

Untuk kesekian kalinya Bi menghela napas ketika ia menghentikan mobil di gerbang hotel berbintang 5—katanya sih milik…. well  siapapun yang akan ia temui nanti.

7:20 PM

Bi menyeringai ketika tanpa sengaja menangkap jam digital di dashboard. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana sang Ibu akan memanggangnya sepulang dari makan malam nanti. Mungkin dia perlu memilih bumbu olesnya dulu? Hm…

Fokus Bi!

Sebenarnya sang Ibu sudah mewanti-wanti untuk menggunakan sopir, namun apakah Bi namanya jika menuruti perintah beliau? Hasilnya? Jalan ditutup sementara ketika petugas pemadam kebakaran menyingkirkan mobil yang terguling dan Bi hanya berhenti dengan patuh karena dia tidak tahu jalan lain menuju hotel.

Bi menelengkan kepala, memperhatikan gerbang luar hotel di depannya. Sesuai dengan namanya Dragon Palace, meski berada di jantung kota, tidak menghalangi hotel ini untuk memiliki desain bergaya istana. Jalan berpaving melingkari sebuah air mancur yang tinggi besar dan berhalaman rumput super luas.

Damn. Tempat ini akan menjadi saksi perubahan hidupnya, nanti. Bi menghentikan mobil tepat di tengah-tengah gerbang kaca yang—lagi-lagi—luar biasa megah dengan ukiran naga disekeliling kusen besinya. Seketika, bayangan mengenai Triad[1] berkelebat di benaknya. Ia bukan datang untuk menemui salah satu anggota mereka kan?

‘Selamat malam Miss,’ seorang valet mengangguk dari luar jendela mobil membuat Bi tersadar dari lamunan absurd-nya. Dengan segera ia membuka kunci pintu, menyilakan si valet membukakan pintu untuknya. Bi menyerahkan kunci mobilnya belum sempat ia mengucapkan terima kasih atau apa, seorang staf hotel yang lain mendekatinya;

‘Selamat malam Miss Xu, silakan lewat sini.’

Bi hanya mengangguk dan mengikuti staf itu dari belakang.

Hotel ini lebih mewah dari yang ia bayangkan, mungkin karena inilah dihargai bintang 5? Sudah pasti, namun ada hal lain yang menarik perhatian seorang Bi, daisy. Karangan bunga yang bertebaran di hotel ini semua terbuat dari bunga daisy.

‘Anda menyukai bunga daisy juga?’ tanya staf hotel yang mengantarnya, mereka sedang menunggu pintu lift terbuka dan Bi sibuk memperhatikan karangan bunga di pojok pintu luar lift.

‘Oh, iya. Daisy bunga yang indah. Kalau aku perhatikan semua bunga di sini hanya daisy, apa ada alasan tertentu?’ Bi menelengkan kepala, mengecek nama staf tersebut, ‘Sonny?’

‘Benar, semua bunga di hotel kami selalu terdapat bunga daisy. Selain bunga resmi hotel, bunga ini juga merupakan bunga favorit CEO kami.’ Jelas Sonny.

Pintu lift terbuka dan keduanya masuk. Bi baru menyadari penjelasan Sonny ketika pandangan matanya jatuh pada dinding lift yang dihiasi karpet bermotif bunga daisy.

‘Bukankah logo hotel ini naga?’ tanya Bi penasaran, ia teringat naga yang melingkari gerbang hotel tadi.

‘Logo resmi memang naga dan bunga daisy adalah bunga resmi. Berbeda fungsi Miss. Xu, lagi pula untuk penggunaan seperti name-tag pegawai,’ Sonny menunjuk name-tag-nya. ‘Kami punya dua, naga dan daisy.’

‘Oh, benar.’ Bi melihat sekeliling. ‘Bahkan dindingnya semua bermotif daisy—‘

Lift berdenting, menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.

‘Silakan Miss,’

Dengan senyum yang dipaksakan, Bi tersenyum sebelum melangkah keluar lift. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia semakin dekat dengan tempat eksekusi.

Keduanya berjalan membelah restoran bergaya western-klasik. Restoran yang tidak kalah mewah dari restoran-restoran berbintang di Geneva, perbedaannya, dulu Bi masuk restoran semegah ini sebagai staf pelayan sedangkan sekarang, ia menjadi salah satu tamu VIP, VVIP mungkin? Bisa jadi, menilik Sonny tidak terlihat akan berhenti di deretan meja-meja yang tersedia.

Benar saja, Sonny berhenti di depan pintu berdaun ganda dengan—lagi-lagi—dengan naga sebagai ganti kenop pintu.

‘Silakan Miss,’ kata Sonny mempersilakan Bi masuk ruangan.

Bi menghela napas dan memantabkan hatinya sebelum melangkah.

 

Selamat tinggal kehidupan lama.

______________________________

[1] Mafia transnasional yang berpusat di Hongkong, Makau, Cina, Taiwan dan negara-negara lain di mana etnis Cina tinggal.

Posted in bahasa, book, fiction, novel, 兰Lán

Novel; 兰Lán Bab 2

Novel; 兰Lán, Royal Park Bersaudara 1. Daftar Isi

Untuk membaca bab selanjutnya sila berkunjung di sini


A WEI MENARIK selimut hingga menutupi kepalanya. Siapa sih yang kurang ajar membuka gorden jam segini? Kening A Wei berkerut di balik selimut, hidungnya mengendus aroma selimut, bukan wangi bunga…. A Wei menyentakkan selimutnya—

‘Selamat pagi Pemalas,’

—Dan memandang sekeliling, kamar hotel. Pantas.

Sigh

Akhirnya ingatan A Wei kembali ke otaknya dan senyaman apapun berada di balik selimut, ia punya misi tertentu untuk diselesaikan hari ini, baiklah, bukan diselesaikan hari ini tapi dimulai hari ini. Walaupun ia tidak sedang buru-buru, namun ia sangat yakin, misi besar ini butuh waktu. Karena itu pula A Wei sudah memesan kamar ini untuk satu bulan. Semoga saja tidak lebih dari satu bulan.

Namun ada satu misi yang butuh penanganan cepat dan darurat adalah, seseorang yang sedang duduk membelakangi dirinya di sofa, kedua tangannya sibuk bermain rubik dan secangkir kopi di meja. Siapa lagi kalau bukan A Ye, si boneka kesayangan sang Ibu. Heran juga, kenapa sang Ibu selalu menyuruh si sepupu ini mengekor kemana pun ia pergi?

Karena kau tidak bisa dipercaya idiot!

Oh bizue (diamlah)!

Bisa dipastikan A Ye adalah biang kerok yang membuat kamarnya terang benderang. Hm…. Agaknya ide tembok kaca ini tidak terlalu baik. Memang keren kalau malam, mungkin romantis juga kalau untuk honeymoon suite, tapi kalau untuk kamar biasa seperti ini, rasanya kurang menyenangkan.

‘Apa yang kau lakukan di sini?’ tanya A Wei tidak senang. Dia paling tidak suka kalau rencana-rencananya diganggu oleh pihak ketiga, terutama jika berpotensi merugikan daripada menguntungkan dirinya. Ya siapa yang mau rugi sih? Semua orang maunya untung kan?

‘Tanyalah dirimu sendiri dan pikirkan kenapa aku bisa duduk di sini.’ Semprot A Ye.

‘Dasar boneka,’ gerutu A Wei seraya menyingkirkan ujung selimut yang masih menutupi kakinya. Sebuah rubik melayang nyaris mengenai pelipisnya. ‘Hei!’ seru A Wei kaget. Selain suka ikut campur—walaupun dengan alasan dipaksa sang Ibu—A Ye ini ini memang suka kekerasan. Entah kenapa dia suka sekali membuat hidup A Wei menderita.

‘Sekali saja, cobalah untuk melakukan hal yang masuk akal. Kau pikir aku suka babysit sampah sepertimu. Buang-buang waktu, kau tahu?!’

Wow, sudah mengganggu tidur orang dan sekarang malah meledak marah? Tidak salah nih? Siapa yang seharusnya marah?

‘Heh! Dengar ya? Siapa yang menyuruhmu kemari? Apa kau sepengecut ini? Hanya berani melemparku dengan rubik tapi aslinya seperti anjing piaraan Ibu?’ memang hanya dia yang bisa menghina? Cih! Menghina orang sih gampang.

Bukannya marah, tapi A Ye tertawa sinis. ‘Aku boleh jadi pengecut ataupun anjing piaraan Ayi yang paling patuh. Terserah yang mana yang kau suka. Tapi satu hal yang pasti Wu Shao Ye, aku bukan tipe anak yang sanggup melihat kekhawatiran di mata Ibuku. Dan Ayi, beliau lebih dari seseorang yang bisa kupanggil Ibu.’ A Ye berdiri lalu menunjuk telepon di nakas. ‘Mr Fong ingin bertemu denganmu, beliau meminta kau meneleponnya kalau kau sudah bangun.’ Hanya begitu, A Ye berjalan ke pintu, namun sebelum ia membuka pintu dan meninggalkan A Wei, ia berbalik. ‘A Wei, aku benar-benar berharap, suatu hari nanti kau bisa memikirkan sesuatu yang lebih penting daripada sekedar keluyuran kesana-kemari tanpa tujuan yang pasti.’

A Wei mengerang dan mengacak rambutnya dengan gemas. Bangun tidur sudah diganggu A Ye, sekarang Mr Fong juga. Urgh, tidak bisakah mereka membiarkan dirinya sendirian?

Kau akan dibiarkan sendirian yang kau kerjaan itu bermanfaat!

Shut up!’ teriak A Wei kesal. Bahkan dirinya sendiri mau berkhianat? Oh itu tidak akan terjadi.

Sekarang, pilihan yang paling bijak adalah mandi lalu sarapan. Meski tidak mau mengakui, aroma kopi milik A Ye membuat perutnya koroncongan. Hh…. Dia juga harus minta maaf pada A Ye nanti, tadi dia sudah keterlaluan. Topik soal Ibu selalu menjadi topik yang paling sensitif untuk si sepupu dan dia malah menyamakannya dengan anjing. Idiot!

Ya…. Kau baru sadar kalau kau idiot?

30 menit kemudian A Wei berdiri di OC Lounge dengan kerutan dalam di dahinya.

Dari yang ia ingat, deskripsi restoran tempat tamu hotel sarapan tidak semewah ini, A Wei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Meja dan kursinya memang sekelas dari lounge yang biasa ia datangi, tapi apa tidak terlalu mewah untuk coffee shop hotel? Seting interiornya pun lebih mirip private diner daripada restoran hotel. Satu lagi, sepi amat?

A Wei mengangkat tangan kirinya, mengecek jam, baru juga jam sepuluh. Berjalan masuk ke dalam, kerutan di dahi A Wei semakin dalam, A Ye sedang duduk di pojok di dekat tembok kaca—benar-benar ini ya, semua hobi sekali dengan tembok kaca—dengan laptop di depannya dan secangkir kopi yang masih mengepul. Dasar sok tua, padahal hanya lebih tua enam bulan dari dirinya. Sungut A Wei dan mengalihkan pandangan matanya dari si sepupu.

Jadi, isi lounge ini hanya A Ye, dan dua orang wanita yang sedang sibuk dengan laptop masing-masing, breakfast meeting?

Serius hotel sebesar ini yang sarapan hanya mereka berempat?

A Wei menuang susu dingin dari pitcher lalu mengiris loaf dan memasukkannya ke toaster. Sambil menunggu loaf masak, ia kembali mengamati lounge tempatnya sarapan. Lounge…. Ada berapa hotel yang menamakan restoran utama dengan lounge, OC Lounge?

Ding

A Wei meneguk habis susu di gelasnya lalu mengambil loaf, mengiris keju dan memakannya begitu saja sambil bersandar di konter. Tidak ada staf pula. Hotel macam ap—seorang gadis keluar dari kamar mandi dengan membawa sekeranjang handuk yang digulung rapi, di atasnya diletakkan setangkai anggrek.

‘Maaf, boleh aku bertanya sesuatu?’ tanya A Wei, masih bersandar di konter.

‘Tentu sir,’ jawab gadis tersebut dengan tersenyum ramah. Barbara, begitu nama yang tertulis di nametag-nya.

‘Apa memang biasanya sesepi ini yang sarapan?’

‘Iya, beberapa tamu sedang breakfast meeting di beberapa business hall. Hari ini hanya 4 orang—termasuk Anda—yang tercatat untuk brekafast di lounge sir,’

A Wei mengangkat satu alis, ada satu lubang hitam di penjelasan Barbara, seisi hotel breakfast meeting kecuali 4 orang ini?

‘Berapa occupancy hotel ini? Ribuan kan? Dan semua sedang breakfast meeting kecuali kami berempat?’

‘Ah,’ Barbara tersenyum lebar seolah baru menyadari kesalahannya. ‘OC Lounge hanya khusus untuk OC Floor, lantai khusus eksekutif dari lantai 19 sampai 23 terdiri dari 100 OC Executive room dan 10 OC Presidential Suite. Untuk tamu reguler, mereka sarapan di coffee shop hotel, Spice Brassiere atau kami biasa menyebutnya Spice saja.’

A Wei mengangguk-angguk. Masuk akal.

‘Lalu, apa kami bisa sarapan di Spice?’

Barbara mengangguk. ‘Tentu bisa sir, tapi sekarang sudah jam 10. Spice tutup untuk breakfast jam 11 last call setengah sepuluh.’

‘Tapi a la carte bisa kan?’ tanya A Wei lagi. Energinya meroket begitu mendengar penjelasan Barbara. Semuanya akan berjalan sesuai rencana, A Ye can fuck himself ha ha.

‘Tentu bisa. Apakah ada yang tidak sesuai dengan menu hari ini?’ tanya Barbara.

‘Oh tidak! Jangan khawatir, these—A Wei menunjuk sekeliling—are great, menunya kurasa cukup. Hanya saja aku sedang mencari sesuatu di Spice, benarkan? Spice?’ tanya A Wei mengkonfirmasi.

‘Benar, Spice.’

‘Di lantai berapa?’

‘Di lantai tiga, di main hall, bersebelahan dengan front desk.’

‘Terima kasih banyak Barbara!’ tanpa mengunggu jawaban Barbara, A Wei segera meninggalkan lounge.

Ini baru permulaan.

Tidak sulit untuk A Wei menemukan Spice, dan seperti penjelasan Barbara, host Spice pun menjelaskan jika mereka sudah tidak menerima tamu untuk sarapan, tapi tidak masalah karena mamang tujuan A Wei bukan untuk sarapan. Namun bukan berarti ia akan bersikap tidak sopan jadi ia menurut saja ketika si host membawanya pada waiter yang akan melayaninya.

Coffee shop sudah sepi, meja-meja sudah mulai dirapikan, jadi benar breakfast sudah tutup. A Wei minta meja yang di pojok belakang, tempat yang aman untuk mengawasi seluruh restoran. Ketika Chong Ching, waiter yang mengambil pesanan meninggalkan dirinya sambil membawa satu nampan besar berisi piring-piring kotor, A Wei kembali memperhatikan sekelilingnya.

Hm…. A Wei mengetuk jemarinya di meja, menikmati pemandangan para staf restoran yang sibuk, ada yang melayani tamu-tamu yang belum selesai sarapan, ada yang membersihkan meja, ada yang menata—ah…. Itu dia yang ia cari.

A Wei tersenyum ketika pandangan matanya tidak lepas dari seseorang yang sedang meletakkan napkin di meja-meja yang telah di set untuk lunch dengan kecepatan yang luar biasa. cepat, efektif dan efisien. Ternyata dia benar-benar bekerja, tidak hanya membual. A Wei bersandar di sandaran sofa dan melipat kedua tangannya di dada sedangkan otaknya mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengeksekusi rencananya.

‘Hei Xiaohua,’

Shit, wrong word….

 

 

 

 

Posted in bahasa, book, fiction, novel

Novel; 兰Lán Bab 1

Novel; 兰Lán, Royal Park Bersaudara 1. Daftar Isi

Untuk membaca bab selanjutnya sila berkunjung di sini


‘Ran, tolong sekalian bawakan bread ke luar ya, Kishen bilang bread-nya habis,’ pinta Helen. Keduanya sedang menurunkan piring-piring kotor di meja steward.

Okay!’ jawab Ran seraya meninggalkan meja steward dengan terburu-buru menuju cold kitchen, meraih empat  plastik bread ketika keluar ke restoran, tidak mempedulikan Auntie Patt yang sibuk mentertawakannya. Auntie Patt memang begitu, beliau selalu bisa memberi ruang dirinya sendiri untuk mentertawakan setiap waiter dan waitress yang sedang berperang memenuhi tuntutan dari ribuan tamu hotel yang sarapan. Katanya sih, staf restoran itu lucu kalau super sibuk begitu.

Ya, setiap pagi di Spice Brasserie—biasanya hanya disebut Spice—pasti super sibuk bahkan untuk kategori sepi, low season, masih ada setidaknya seribu orang yang sarapan setiap pagi. Sebagai restoran utama New Park Hotel, bekerja di Spice benar-benar membutuhkan tenaga ekstra, tidak ada waktu untuk bersantai. Terlebih jika kamu mendapat giliran morning crew. Hanya ada satu kata, perang! Cocok dengan namanya, Spice, hot, panas, sepanas tensi pekerjaannya eaaaa.

Sebenarnya ada restoran lain selain di Spice yang melayani sarapan tamu hotel, satu restoran khusus untuk lantai eksekutif dan tamu VIP, Orchid Club—biasa disebut Club saja atau OC. Dan siapapun yang punya ide memisahkan tamu reguler dan tamu VIP benar-benar patut diacungi jempol—dua jempol mungkin. Karena bagaimanapun juga, kehadiran OC amat sangat membantu staf di coffee shop. Mereka tidak perlu terbebani kekhawatiran berhadapan dengan tamu-tamu penting ketika mereka harus berlarian kesana-kemari melayani berbagai permintaan tamu-tamu hotel yang lain.

Masuk akal, karena mengurus sarapan untuk ribuan orang, staf tidak ada waktu untuk mengurus permintaan khusus tamu-tamu penting tersebut—kita tahu, salah satu hobi orang-orang penting adalah mempersulit hisup orang lain dengan beragam permintaan yang tidak masuk akal. Kalaupun mereka memaksa turun ke Spice, maka mereka harus mau diperlakukan sama seperti tamu-tamu yang lain. Apakah ada yang minta turun di Spice dan sarapan di sana? Oh banyak. Tidak sedikit juga yang meminta layanan seperti halnya di OC. Benarkan mereka suka menyusahkan orang lain? Begitulah kelakuan orang-orang berduit, suka semaunya, seolah dunia hanya berputar untuk mereka.

‘Oi, terima kasih Adik!’ seru Kishen—salah satu waiter senior di Spice—ketika Ran mengangsurkan plastik bread ke pelukannya. ‘Anak ayammu belum sampai?’ tanya Kishen ketika melihat ruang VIP masih kosong. Anak ayam, grup study tour dari sebuah SMA di Kyoto. Kishen memang biasa menjuluki setiap tamu sesuka hatinya. Jika mereka baik, maka nama panggilannya pun baik, kalau mereka menyebalkan, nama yang dipakai pun bisa kurang ajar. Paling sering ia menggunakan nama-nama hewan.

Ran mengangkat tangan kirinya, melihat jam di pergelangan tangannya.

7:16

‘Mungkin sebentar lagi,’ Ran mengangkat bahu.

‘Maaf, boleh aku minta bread-nya? Di sana habis,’ seorang gadis menunjuk keranjang roti di belakang pilar utama Spice.

‘Oh tentu!’ jawab Kishen bersemangat. Mungkin terlalu bersemangat karena cowok itu nyengir lebar. Bisa jadi karena dua alasan, kaget karena diingatkan dia sedang berada di tengah huru-hara orang sarapan atau karena cewek yang minta bread lumayan membuat mata mendelik, pretty and curvaceous! Sesuai selera Kishen hmm….

Selagi Kishen membuka kemasan bread dan berjalan kembali ke station-nya, Ran melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun, berambut merah dan bermata abu-abu, sangat tampan. Anak itu dengan patuhnya berdiri di samping konter bubur, hanya memandangi orang yang lalu lalang mengambil makanan.

‘Halo ada yang bisa kubantu? Namaku Ran,’ sapa Ran seraya berjongkok di depan anak tersebut.

‘Halo, namaku Ryan. Aku menunggu Kakak yang membuatkanku susu,’ jawab anak tersebut seraya menunjuk pantry di depan mereka.

‘Ah, kukira kau tersesat,’ kata Ran lega, setidaknya ia—mereka—tidak perlu berurusan dengan sekuriti seperti beberapa hari yang lalu ketika seorang anak tertinggal di coffee shop sedangkan kedua orang tuanya sudah dalam perjalanan ke bandara untuk kembali ke negaranya. ‘Orang tuamu mana?’ tanya Ran lagi. Tidak ada salahnya memastikan bukan? Better safe than sorry. Anak tersebut menunjuk ke pojok di deretan meja yang menghadap ke jendela kaca, sang Ibu melambaikan tangan dengan senyum lebar.

‘Ini dia!’

Ran mengangkat kepala ketika sebuah suara yang sangat ia kenal—dan sering membuat perutnya terasa terbalik (dalam arti yang baik)—terdengar dari pintu pantry.

Chong Ching.

Ran menghela napas seraya berdiri. ‘Kukira dia anak yang ketinggalan lagi,’ gumam Ran pada Chong Ching pelan.

‘Terima kasih!’ seru Ryan, ia menerima botol susunya dengan senyum lebar lalu berbalik, berlari menuju kedua orang tuanya.

Chong Ching nyengir dan Ran meleleh. Tidak seharusnya seorang cowok diperbolehkan mempunyai senyum yang begitu mempesona.

Sigh

‘Aku suka anak itu,’ kata Chong Ching.

‘Ryan?’ tanya Ran.

Chong Ching mengangguk namun belum sempat ia merespon pertanyaan Ran, seorang Nenek beserta dua temannya berdiri kebingungan di depan konter bubur, ia pun menghampiri ketiganya, melayani dan menjalankan tugasnya sebagai waiter yang baik. Ngomong-ngomong soal waiter yang baik, Chong Ching memang the best F&B staf periode bulan ini. Lengkap deh, benar-benar tipe menantu idaman para Ibu, eh.

Yah, mereka sedang bekerja, di jam-jam tersibuk pula. Mana ada waktu untuk ngobrol biasa?

Ran pun tidak punya banyak waktu untuk merasa kecewa dengan gangguan nenek-nenek ketika ia melihat seorang wanita mungil namun gesit berjalan dengan terburu-buru—Ran sempat bertanya-tanya apakah wanita itu sedang mengikuti lomba jalan cepat di coffee shop hotel—menuju pintu ruang VIP. Salah satu guru dan koordinator study tour. Bukan hanya itu, wanita tersebut, Miss Hanazawa, merupakan satu-satunya yang bisa berbahasa asing! Cukup melegakan Ran karena bahasa Jepang-nya nol besar. Yang ia bisa hanyalah mengucapkan konbawa Ran-desu itu juga karena bagian dari ment penyanyi idolanya, Ran hanya mengganti nama si artis dengan namanya sendiri.

Oh ada lagi, konniciwa.

Tapi tentu saja kedua kata itu tidak bisa membantunya ketika harus melayani 200 siswa dan guru yang sarapan di station-nya. Sebentar lagi.

‘Hai Ran!’ seru Miss Hanazawa dengan senyum lebar—yang cantik. Cukup mengherankan pagi-pagi sudah berlari-lari—sebenarnya hanya jalan yang super cepat—rambut dicepol asal-asalan, kacamata mungil, rok bermotif bunga dan kaos putih polos di atasnya beliau memakai kemeja kotak-kotak, terakhir sebuah tas kulit menyilang dari bahu kiri ke pinggang kanannya. Kalau dibayangkan Miss Hanazawa ini tipikal edgy-nerdy girl tapi serius, dia sangat cantik, setidaknya di mata Ran. Effortlessly beautiful, begitulah istilah Ran.

‘Hai Miss, sudah siap sarapan?’ tanya Ran.

Miss Hanazawa meletakkan tasnya disalah satu kursi. ‘Sepuluh menit lagi mungkin? Anak-anak sedang bersiap turun. Ada yang bisa kubantu?’

Benarkan? Bukan hanya cantik wajahnya, hatinya pun cantik! Tamu mana yang menawarkan bantuan pada waitress yang jelas-jelas tugasnya melayani dirinya?

‘Terima kasih, mungkin aku bisa menunjukkan tempat makanannya? Aku tidak bisa berbahasa Jepang,’ Ran tersenyum malu.

Miss Hanazawa tertawa. ‘Tidak masalah, tidak masalah.’ Katanya seraya mengibaskan kedua tangannya. ‘Jadi di mana kita mulai?’

Ran menunjukkan konter makanan dan menjelaskan setiap bahan yang dipakai kecuali roti, yogurt dan buah.

‘Boleh aku minta satu?’ tanya Miss Hanazawa sambil menunjuk tumpukan yogurt.

‘Tentu, silakan.’

Miss Hanazawa mengambil sebuah dan Ran kembali melanjutkan penjelasannya.

‘Kalau ingin sunny side up, bisa pesan di open kitchen di luar,’ Ran menunjuk deretan cook yang super sibuk membuatkan telur ceplok para tamu yang antri di depan konter.

‘Tapi ramai di sana, anak-anak butuh yang cepat karena jam 9 mereka harus selesai sarapan.’ Miss Hanazawa menunjuk antrian di open kitchen.

‘Aku bisa pesankan beberapa sekaligus dan menyiapkannya di sini mungkin?’ tawar Ran. Kalau tamunya baik begini, sedikit merepotkan diri sih tidak masalah, tapi jangan harap kalau mereka banyak maunya, tanpa tip ya no penawaran he he he.

Miss Hanazawa mengangguk-angguk, mungkin memikirkan penawaran Ran.

‘Boleh kalau begitu. Kalau bisa mungkin 50? Tapi ramai begitu apa mereka mau?’ tanya Miss Hanazawa ragu.

‘Tunggu ya, aku tanyain dulu.’ Tanpa menunggu persetujuan Miss Hanazawa, Ran berlari keluar dan menghampiri salah satu cook, Yuan, berdiskusi sebentar sebelum kembali ke ruang VIP. ‘Yuan, cook yang aku mintai tolong bersedia membuatkan 50 sunny sides up,’ ujar Ran sambil nyengir lebar.

‘Kamu memang keren! Terima kasih.’

Percakapan Ran dan Miss Hanazawa terputus ketika satu persatu murid Miss Hanazawa masuk ruangan VIP untuk sarapan. Satu jam berikutnya kegiatan Ran hanya membersihkan meja-meja panjang dari piring, mangkok dan gelas kotor sedangkan Miss Hanazawa membantu Ran dengan menerjemahkan atau menjelaskan sendiri ketika ada pertanyaan dari siswanya atau rekan guru.

Oh, mereka juga sangat berterima kasih dengan sunny side up spesialnya.

Posted in bahasa, book, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You, “Dilema.”

Bisa juga di baca di Storial

Huh?’ Kevin menatap Abi bingung. Ngomong apa dia?

‘Jadi….’ Abi mengaduk-aduk buburnya dan melanjutkan dengan suara kecil. ‘Kemarin Ray mengajakku nonton,’

‘Oh…. Lalu?’

Abi tidak menjawab, hanya mengeleng pelan.

‘Emang, kapan Ray ngajak nonton?’ tanya Kevin.

‘Besok malem minggu,’ jawab Abi kalem.

‘Nah kenapa nggak mau?’ tanya Kevin lagi.

‘Kapan aku bilang nggak mau?’ Abi bertanya balik.

Kevin menatap Abi dengan muka datar. Belakangan ini Abi memang aneh.

Lha tadi geleng kepala buat apa?’

‘Nggak tau….’ Erang Abi sambil menelungkup di meja—mangkok buburnya sudah disingkirkan ke samping.

‘Wah jadi ini serius ya,’ tanya Kevin, ia pun meninggalkan buburnya sejenak dan bersandar ke sandaran kursi, memperhatikan Abi dengan senyum dikulum. Abi mendongak, maksudnya? ‘Ini bukan sekedar idol-crush aja. Waah Abi udah mulai naksir cowok ya….’

Abi menghela napas kesal. ‘Udah deh, nggak usah godain,’

Kevin tertawa. ‘Oke, oke. Jadi gimana nih? Kau sendiri, suka nggak sama Ray?’

‘Yaaa…. Gimana, dia keren sih kalo main basket….’

‘Ya elah Bi, mau pacarin orangnya apa gayanya main basket?’

Lagi-lagi Abi menggeleng. ‘Nggak tau…. Kalau menurutmu gimana?’

‘Aku?’ Abi menggangguk dengan kepala masih menempel di meja. ‘Sori ya, gini-gini aku masih suka cewek.’

Abi spontan mengangkat kepalanya. ‘Maksudku kalau kau jadi aku idiot!’

‘Kalo itu nggak tau juga,’ Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ‘Aku lebih cakep dari Ray sih,’

Abi mendengus. ‘Maksudnya aku kudu pacaran sama situ?’

‘Ya, kalo situ mau sih,’ Kevin mengedipkan matanya sebelah dan Abi pura-pura muntah.

‘Nggak asik ah. Rugi nih dua mangkok bubur. Kepalaku malah tambah pusing!’ Abi bangkit dan meninggalkan kursinya.

‘Hei, hei…. Kok kabur? Buburmu gimana nih?’

‘Makan aja!’ teriak Abi, cewek itu menghampiri Bang Hadi yang sibuk mencuci mangkok dan mengulurkan selembar dua puluh ribuan. ‘Bayar Bang,’

‘Kok udah pulang? Kan Kevin belum selesai tuh?’ tanya Bang Hadi.

‘Biarin! Dia nyebelin, untung aku masih tepat janji buat bayarin makannya,’ kata Abi sambil merengut.

Healah begitu saja lho kok ngambek, biasanya Kevin juga nyebelin kan?’

Abi mencebik dan berpamitan. ‘Udah ah, aku pulang ya Bang,’

Bang Hadi melambaikan tangan. ‘Iya, hati-hati.’

Sementara Kevin hanya memandangi Abi yang meninggalkan warung, dalam hati bertanya-tanya seberapa serius perasaan suka Abi pada Ray dan kenapa ia semakin tidak suka dengan ide Ray yang juga menyukai Abi?

***

Selama dua hari Abi mendiamkan Kevin, rupanya gadis itu benar-benar kesal karena Kevin malah menggodanya dan tidak memberikan solusi atas masalahnya. Telepon Kevin tidak pernah dijawab, begitu juga dengan pesan-pesannya, hanya dibaca tanpa dibalas. Tentu hal ini membuat Kevin kelimpungan, ia tidak terbiasa tanpa kehadiran Abi, hidupnya terasa sepi, tidak ada yang diajak bertengkar, tidak ada yang merecokinya saat melukis.

‘Hari Jum’at,’ gumam Kevin. Berarti Abi akan kencan besok, jadi ga ya? Sebaiknya sih nggak jadi—eh? Pergulatan batinnya mengejutkan Kevin sendiri, kenapa ia tidak suka dengan ide Abi kencan dengan Ray besok? Tapi…. Alasan ia tidak suka Ray karena cowok itu punya potensi mencuri teman baiknya kan? Bukan karena alasan yang lain, ia menyukai Abi misalnya?

Kevin tersedak ludahnya sendiri ketika menyadari hal itu. Menyukai Abi? Masa? Mereka berdua telah bersama-sama sejak bayi, bahkan lahir pun di rumah sakit yang sama, rumah bersebelahan, sekolah dari playgroup sampai kuliah bersama-sama. Baru terpisah kelas sejak kelas dua SMA hingga sekarang—walaupun untuk beberapa mata kuliah mereka masih sekelas. Sebagai catatan tambahan mereka belum pernah benar-benar pacaran, untuk Abi, ibu Abi tidak mengijinkan putrinya berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jika Ray ini benar-benar terjadi, maka cowok itu akan menjadi pacar pertama Abi.

Kevin sendiri?

Cowok itu mengerang di kursinya, sekarang ia baru menyadari kalau dirinya juga belum pernah punya pacar. Teman cewek sih banyak tapi yang menyita waktunya sebanyak Abi, belum ada. Hanya Abi.

Kevin meninggalkan meja belajar dan berjalan ke jendela, niatnya untuk belajar menguap seketika. Melalui jendelanya ia bisa melihat kamar Abi yang juga masih terang—rumah mereka sama-sama di pojok blok masing-masing  hanya terpisahkan jalan berpaving. Abi ngapain ya? Kevin meraih white board kecil yang diletakkan menyandar di tembok di bawah jendela, ia menulis;

Lagi ngapain?

Kemudian memeganginya di kusen jendela, menuggu dan berdo’a Abi muncul di jendela kamarnya seperti biasa—sejak kemarin pun Abi tidak terlihat bermain-main di jendela seperti biasanya. Agaknya Tuhan menjawab do’a Kevin ketika Abi melakukan sesuatu dengan gordennya, sepertinya ada kait yang tersangkut ke kait lainnya dan pada akhirnya ia menyadari ada Kevin berdiri di jendela kamarnya di sana. Kevin tahu Abi membaca white board-nya kerena air muka gadis itu berubah.

Abi cemberut, Kevin tersenyum, Abi makin cemberut dan Kevin tertawa.

Abi menunduk dan meraih white board miliknya yang juga diletakkan di bawah jendela lalu menulis sesuatu untuk diperlihatkan pada Kevin.

Udah punya nyali bicara denganku?

Satu alis Kevin terangkat naik.

Sori

Kevin menulis dan memperlihatkannya pada Abi.

Abi mencebik.

Kevin menurunkan white board-nya dan menghapus dua tulisan pertama untuk menggantinya dengan tulisan baru.

Jadi nontonnya?

Ga tau -.-

Abi meletakkan dahinya ke tepi white board yang dipegangnya. Putus asa.

Apa kau mau aku ikut?

Tulis Kevin selanjutnya, langsung membuat Abi mendelik. Ikut? Dengan cepat Kevin menghapus tulisan yang lain dan menggantinya dengan yang baru.

Lha kayaknya ragu-ragu terus gitu?

Kau bukan cewek sih?

Tulis Abi. Lalu tanpa pikir panjang Kevin menulis balasan yang langsung di sesalinya.

Lah kalo suka ya pergi aja kok repot?

Ngomong sama sama tembok emang bikin emosi!

Dengan cepat Abi menurunkan white board dan kedua tangannya meraih ujung-ujung gorden, menutupnya dengan marah.

‘Lho, lho Bi! Abi?!’ teriak Kevin dari jendela seberang. Namun Abi tidak peduli dan membiarkan gordennya tetap menutup.

Kevin menghela napas, sialan. Setelah menunggu beberapa saat dan Abi sepertinya tidak akan membuka gorden kembali dalam waktu dekat, Kevin akhirnya kembali ke dalam, menjatuhkan diri ke kasur. Cewek emang susah dimengerti! Kayaknya aku salah ngomong ke aku sendiri deh, lah kenapa dia yang marah? Kalo emang dia suka ya udah sana pergi. Tapi emang aku ga suka sih dia pergi nonton sama Ray. Kalo mau nonton sama aku juga bisa kan?

Kevin menghela napas dan meraih white board-nya

Jangan pergi

Kemudian meletakkannya di jendela sedang ia sendiri kembali ke kasur, kembali memikirkan percakapan mereka barusan, juga pesan yang ia tulis di white board. Kok aku kayak ABG yang labil ya? Tadi bilang silakan pergi tapi sekarang bilang jangan pergi. Apa hakku melarang Abi pergi? Argh….

Kevin bangkit lagi dan menurunkan white board-nya. Gorden kamar Abi masih tertutup hanya sedikit menggembung ketika tertiup angin. Semoga Abi tidak membaca tulisan tadi! Tangannya menjulur meraih ponsel di bawah bantal dan mengirim pesan pada Abi sebelum ia berubah pikiran walau ia tahu akan menyesalinya nanti, namun untuk saat ini, ia merasa inilah tindakannya yang paling benar untuk dilakukan.

Pergi lah nonton, ambil kesempatan selagi bisa.

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Kayaknyadiasukasamaaku.”

‘Jadi, bisa diceritakan kenapa kau mengajakku makan bubur? Bukannya makan bubur itu kayak orang sakit?’ tanya Kevin.

Abi mendongak dan sedikit melongokkan kepalanya, melihat mangkok bubur Kevin yang sudah tinggal separuh sedangkan miliknya nyaris masih utuh. Apa tenggorokannya anak itu terbuat dari besi tahan panas? Ia mengerucutkan bibir sebelum menjawab pertanyaan Kevin—dengan ragu-ragu.

‘Ray…. Diakayaknyasukasamaaku.’ Jawab Abi dengan cepat.

 

Baca selengkapnya Kayaknyadiasukasamaaku

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Restoran”

‘Sepi ya,’ kata Kevin sambil melihat sekeliling. Selain meja mereka, hanya ada dua meja lain yang terisi, sepasang kakek nenek di satu meja dan tiga orang cewek di meja yang lain.

‘Padahal tadi Tante Lina bilang “aduuuh untung kamu cepet pesen tempat, udah di pesen grup lho”.’ Abi menirukan suara Tante Lina, si pemilik restoran.

Kevin tertawa. ‘Mungkin mereka belum datang?’

Restoran ini memang cukup terkenal, selain karena harganya yang cukup terjangkau dan pilihan menu filling yang beragam, sup di sini memang nomor satu! Resep keluarga kata Tante Lina ketika Abi bertanya, rahasia sup hotpot-nya yang enak. Sayangnya lagi, restoran ini termasuk kecil jika dibandingkan restoran-restoran saingannya. Pernah Abi mengusulkan untuk merenovasi restoran dan menambah ruangan, namun Tante Lina enggan melakukannya dengan alasan, semakin besar restoran beliau makin susah untuk mengontrol kualitas menu yang disajikan. Ada benarnya juga sih.

Baca selengkapnya Restoran

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You “Jangan Pergi”

Jangan pergi

Tulisan cakar ayam dengan spidol hitam itu masih tetap seperti enam bulan yang lalu ketika Kevin menulisnya sebagai jawaban untuk Abi yang bertanya apa ia boleh pergi nonton bersama Ray—cowok gebetan Abi. Hanya beberapa bagian yang sudah terhapus oleh waktu, sisanya, masih jelas terbaca.

Semua bermula dari seorang mahasiswa transfer dari  Vancouver bernama Ray. Di mata Kevin cowok itu biasa saja—apalagi di awal-awal ia pindah—di kampus pun dia tidak terlalu dibicarakan, intinya bukan tipe seorang idola lah, namun entah kenapa Abi tergila-gila padanya. Tidak hanya sekedar mengidolakan, Abi pun mulai mengikuti setiap kegiatan yang Ray ikuti salah satu dan yang paling utama adalah basket.

Ray baru terlihat menonjol ketika ia bergabung dengan tim basket kampus, tidak hanya dengan kemampuan memainkan bola yang di atas kemampuan pemain lain. Ia juga lebih tinggi daripada rata-rata orang bule—apalagi orang Indonesia?—dan wajah perpaduan ras Kaukasoid dan Cina membuatnya tampak berbeda dengan mahasiswa kebanyakan di sini. Kevin mengakui hal itu—dan entah kenapa membuatnya semakin kesal.

Baca selengkapnya Jangan Pergi