Posted in bahasa, book, Daisy, novel

Novel; Daisy 2. Makan Malam

Seriously Al, aku nggak mengerti kenapa dunia ini begitu sempit,’ Kevin terbahak di ujung telepon.

‘Bukan dunia yang terlalu sempit Kev, ini adalah…. Takdir?’ Al juga tertawa.

There no more word, congratulations.’ Kata Kevin lagi. ‘Aku benar-benar ingin melihat wajahmu sekarang.’ Al mengangkat alis. ‘Kau pasti seperti anak kecil saat membuka kado Natal.’

‘Sialan!’

Mereka berdua tertawa lagi.

‘Jadi?’

‘Apanya?’ tanya Kevin.

‘Perlukah kubilang pada Mum kalau giliranmu akan segera tiba?’ tanya Al.

Don’t you dare!’ teriak Kevin dari seberang spontan. ‘Awas kalau kau berani!’

Al tertawa. ‘Ayolah, aku sudah. Seharusnya kita bersama kan?’

No Al, I’m warning you! Not a single word—‘

And?’

‘Kubongkar semuanya.’

Al mengangkat bahu seolah Kevin tahu ketidakpeduliannya.

‘Bagaimana kalau aku nggak peduli?’ kata Al, ia mulai mengikat dasi kupu-kupunya.

‘Yakin?’ tanya Kevin.

‘Kau nggak mungkin ke sini,’ kata Al. Ya, dia dan Kevin memang terpisah ribuan kilometer sekara—

 

Knock knock knock

 

‘Ya, masuk,’ jawab Al tanpa menoleh.

Pintu kamarnya terbuka separuh dan sebuah kepala menyeruak diantara daun pintu dan kusen. Bo Ma, Nanny dan pengurus rumah yang telah bersama Al sepanjang ia bisa mengingat keberadaan wanita paruh baya itu.

‘Nyonya menelepon, menyuruhmu supaya jangan terlambat.’ Lapornya.

‘Iya, aku mengerti, terima kasih,’ Al mengangguk. Tidak diberitahu pun ia juga tidak ingin terlambat.

Bo Ma mengangkat bahu kemudian menarik diri dan menutup pintu kamar.

‘Bo Ma?’ Kevin bertanya dari speaker ponsel di meja samping tempat tidur.

Yeah,’ jawab Al, sekarang ia mengetatkan tali dasi dan merapikan kedua ujungnya.

‘Wanita itu selalu membuatku iri padamu,’ kata Kevin.

‘Kenapa?’ tanya Al, ia sedang mematut diri di depan kaca berukuran seluruh tubuh. Memastikan bahwa ia dalam penampilannya yang paling sempurna.

‘Wang Wang tidak se-anttentive Bo Ma.’

Al ingin tertawa mendengarnya, ia bahkan berani bertaruh, sekarang Kevin sedang merengut iri padanya. Bo Ma…. Beliau sudah seperti Ibu kedua bagi Al, bukan hanya melebihi perhatian seorang Ibu, beliau juga salah satu teman yang paling bisa dipercaya.

‘Kupikir kau nggak suka orang lain selalu mencampuri urusanmu? Dan itu yang selalu dilakukan Bo Ma hampir setiap saat.’ Al melihat jam tangannya, sudah waktunya ia pergi.  ‘Alright, gotta go. Talk you later brutha,’ pamit Al.

Okay, keep me update will you?’

Sure, see ya.’

Al meraih ponselnya dan buru-buru keluar kamar. Ia nyaris terlambat. Bukan hanya ia tidak mau berurusan dengan sang Ibu yang cerewet—walau ia sangat sadar kalau semua Ibu itu cerewet—namun Al memang sudah tidak sabar dengan acara yang akan dihadirinya.

***

Al melirik jam tangannya, 7. 18.

Hm…. Ia tidak suka orang yang terlambat, terlebih ketika ada dua pasang tetua yang menunggu.

Tidak sopan.

‘Namun Al bisa mengatasinya dalam waktu beberapa hari.’ Suara sang ayah menggema di ruangan yang hanya dihuni mereka berlima. Ada nada kebanggaan seorang ayah di sana. Percakapan berlanjut, namun tidak satupun masuk ke otak Al, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Al melirik jam tangannya, lagi. 7.20. Wow, terlambat 20 menit.

Luar biasa.

Rasanya Al sudah duduk bertahun-tahun di kursinya dan mendengarkan banyak pujian yang tidak berguna ketika terdengar ketukan dari luar pintu. Pintu terbuka perlahan, seorang gadis melangkah masuk.

‘Ah ini dia,’ seru Mrs. Xu. Beliau berdiri diikuti kedua orang tuanya.

Al membeku. Walau ia sudah menyiapkan diri untuk pertemuan ini, ternyata masih belum cukup. Berada satu ruangan dengan seorang Bianca Xu benar-benar membutuhkan pengendalian diri yang ekstra.

Matanya.

Mata cokelat gelap itu masih sama seperti yang selama ini ia ingat. Mata yang sama seperti milik Maria. Mata yang hingga kini masih suka muncul di dalam mimpi-mimpinya. Hanya saja, sekarang bukanlah mimpi. Bi ada di hadapannya, satu ruangan dengannya, segera, wanita itu akan duduk di seberang mejanya.

‘Maaf sangat terlambat, ada kecelakaan jadi jalan ditutup sementara dan saya tidak tahu jalan alternatif.’ Gadis tersebut berhenti di tengah-tengah ruangan dan membungkukkan badan.

‘Oh tidak masalah, tidak masalah.’ Sang Ibu, Mrs. Li tersenyum lebar dan memeluk Bi. ‘Luar biasa, Lin kau cantik sekali.’

‘Terima kasih Mrs. Li.’ Kata Bi sambil membungkukkan badannya.

‘Kau lihat Al? Aku tidak pernah salah.’ Mrs. Li menoleh ke arah Al dengan satu tangan menggenggam tangan Bi.

Al tersenyum kaku, nyaris seperti robot. Ada apa denganmu idiot?

Mr. Li berdehem. ‘Baiklah, aku masih ada acara yang harus kuhadiri. Jadi kalian anak muda, bersenang-senanglah, oke,’

Eh?

Bukan hanya dirinya yang terkejut dengan ucapan sang Ayah, Bi pun menatap kedua orang tuanya bergantian, seolah bertanya, apa maksudnya?

‘Kau benar,’ Mr. Xu mengangguk setuju. ‘Urusan anak muda, kita tidak perlu ikut campur.’

‘Berterima-kasihlah padaku, tidak membuatmu datang ke pesta.’ Tambah Mr. Li seraya menepuk bahu Al ringan, sementara Ibunya dan Mrs. Li bersiap-siap untuk pergi juga.

‘Lin, kuharap kau bisa menikmati malam ini dengan baik. Laporkan padaku kalau Al tidak memperlakukanmu dengan baik,’ ujar Mrs. Li.

‘Ah, iya baik.’ Jawab Bi tergagap.

Ini benar-benar di luar dugaannya bagaimana mungkin mereka meninggalkan dirinya dan Bi sendirian? Semuanya terjadi begitu cepat dan dalam hitungan menit yang tertinggal di ruangan itu hanyalah dirinya dan Bi. Keduanya masih diam, mereka membiarkan kedua pelayan yang berdiri berjaga sedari tadi membereskan meja.

‘Sepertinya kamu tidak suka,’ Al membuka mulut untuk pertama kalinya ketika kedua pelayan  menghilang di balik pintu. Berusaha keras untuk terlihat normal.

Bi spontan mendongak, menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

‘Apa kamu tidak?’ Bi bertanya balik.

‘Aku tidak secepat itu menilai sesuatu,’ Al mengangkat bahu dan bersandar di sandaran kursi. Bi duduk dengan punggung tegak, kaku. Yang paling penting, menilik dari sikap Bi, dia bahkan tidak mengenali Al. Well. ‘Aku akan melihat dan mempelajarinya terlebih dulu. Seperti itulah aku diajari.’

‘Pebisnis,’ Bi berdecak.

Al sudah siap beradu argumen ketika pelayan muncul dengan dua hidangan pembuka. Sup kepiting Kanton dan salad daun ketumbar. Eww, Al menatap piring salad di hadapan Bi dengan jijik. Bagaimana mungkin wanita secantik Bi bisa bertahan dengan aroma ketumbar yang membuat siapapun pusing?

‘Aku tidak tahu makanan favoritmu jadi Ibumu yang memilihnya,’ kata Al, berusaha menghapus ekspresi jijik di wajahnya. Kalau Bi memang suka ketumbar, siapa dirinya melarangnya makan? Untunglah, sepertinya Bi tidak menyadari pergulatan batin Al.

‘Jadi Mr. Li—‘

‘Al,’ potong Al.

‘Maaf?’

‘Panggil aku Al. And as matter of fact, aku adalah Wu, bukan Li.’ Jelas Al. ternyata benar, Bi tidak mengingat dirinya.

Bi melongo. ‘Wu?’

Al mengangguk.

‘Oh,’ Bi mengangguk. Untuk sesaat Al mengira jika Bi akan menanyakan perihal namanya ternyata dia melanjutkan pertanyaannya yang sempat terpotong. ‘Jadi, bisa aku diberi pencerahan kenapa hanya kita berdua yang makan malam?’

‘Sudah kuduga kamu akan menanyakannya.’ Al tersenyum. ‘Well, aku merasa dengan begini kita bisa leluasa berbicara dan mengenal satu sama lain?’

‘Apa kita kan membicarakan cara untuk keluar dari jebakan perjodohan ini?’ tanya Bi.

Apakah hanya dirinya atau memang ia mendengar pengharapan di nada suara Bi?

‘Keluar dari jebakan perjodohan?’

Bi mengangkat bahu sambil menusuk-nusuk sayuran di piringnya, ketika menjawab pertanyaan Al, ia sangat yakin jika Bi kecewa.

‘Kupikir kamu sengaja mengusir tetua jadi kita bisa mendiskusikan hal ini.’

Al tertawa. ‘Mungkin kamu terlalu banyak membaca buku atau melihat drama yang tidak penting. Seperti yang kubilang, aku tidak secepat itu dalam menilai sesuatu. Aku akan mempelajari sebelum memutuskan.’

Bahu wanita itu melorot namun tidak mengatakan apapun. Apa dirinya seburuk itu?

‘Kau tidak ingin melakukan ini?’ tanya Al. Selera makannya mendadak hilang. Ia sadar betul 20 tahun bukan waktu yang singkat, namun tetap saja, bohong kalau mengatakan penolakan ini tidak melukainya.

‘Memang kau tidak?’ Bi bertanya balik.

Al menatap wanita di depannya, terbelah antara ingin mengatakan yang sesungguhnya atau tidak, jadi ia memilih pilihan yang paling aman.

‘Aku ingin mencobanya dulu. Kita lihat apa yang terjadi nanti. Bagaimana?’

Bi mengangkat bahu. ‘Aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya bukan?’

Al menghela napas dalam. Bukan hanya ia harus bertahan dengan bau daun ketumbar yang menjijikkan, ia juga harus menemukan cara untuk membuat makan malam ini bisa dijalani oleh keduanya tanpa harus terjebak dalam kesunyian.

 

 

Advertisements
Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 1. Sesal

SESAL.

Hanya satu kata itu yang bisa menggambarkan perasaan Bi saat ini. Bukan situasi seperti ini yang diharapkan ketika ia memutuskan untuk pulang. Bi tidak bisa menghapus ingatannya akan wajah sang Ibu ketika ia mengatakan dirinya telah berpisah dengan sang kekasih—sekarang mantan. Mengatakan beliau marah rasanya masih kurang tepat karena hampir bukan itu yang terjadi.

Dengan wajah dingin beliau mengatakan;

‘Kita akan makan malam dengan Keluarga Li. Kau selalu berkata kalau kau sudah dewasa jadi kurasa aku tidak perlu mengatakan apa yang harus kau lakukan bukan?’

Luar biasa.

Bukan saja ia telah kehilangan rumah, baiklah, tidak kehilangan karena ia memang dengan sengaja menjual rumah tersebut. Ketika hubungannya dengan sang kekasih berakhir, Bi tidak yakin untuk tetap tinggal di Geneva. El telah pulang ke kampung halaman sejak satu tahun yang lalu untuk membuka kafe dan toko kue impiannya. Kontrak kerjanya dengan rumah produksi teater pun telah berakhir, ia juga tidak berniat untuk memperpanjang masa kerjanya.

Jadi praktis, pengangguran, putus cinta, tidak ada tempat tinggal. Bukankah semua itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk membuatnya pulang?

Ya, amat sangat cukup.

Kalau dilihat sekilas, hidup Bi cukup menyedihkan padahal kenyataannya jauh dari kata-kata menyedihkan—mungkin kecuali sekarang dia harus berurusan dengan sang Ibu soal perjodohan.

Perjodohan?

Tentu saja, apalagi?

Makan malam dengan keluarga xxx adalah ungkapan lain dari, kau kujodohkan dengan xxx.

Karena itulah Bi menyesali keputusannya untuk pulang. Sejujurnya ia lebih baik kena semprot si sepupu, Dee, jika harus absen dari pernikahannya minggu depan daripada terjebak dalam urusan perjodohan begini.

Damn.

Perhatian Bi teralihkan ketika ponselnya berdering, El.

Yes?’ ia menghidupkan loudspeaker untuk menjawab teleponnya sementara ia melanjutkan berdandan.

‘Aku hanya ingin tahu keadaanmu dan, meski aku nggak suka ini, tapi aku tidak bisa tidak bertanya-tanya, kau baik-baik saja kan? Semuanya oke kan?’ tanya pria dari seberang.

Thank you El. Dan meski aku benar-benar ingin mengatakan aku ingin lompat ke jurang demi menghindari ini semua, rasanya aku tidak akan melakukan itu. Aku mencintai hidupku lebih dari apapun,’ Bi tertawa miris.

El juga tertawa di seberang, Bi tidak berubah, ia masih suka sarkasme. Tidak diragukan lagi.

‘Kuharap aku bisa membantumu,’

‘Pastikan kau ada untukku nanti malam, bisa di telepon atau bertemu langsung, aku akan sangat berterima kasih.’ Kata Bi. Ia menambahkan maskara sekali lagi sebelum mematut diri untuk kesekian kalinya, memastikan make-up-nya sudah benar. Meski ia tidak suka, ia tidak bisa pergi dengan muka gembel. Ia juga punya harga diri, walau pikiran untuk mempermalukan keluarganya selalu menggoda.

‘Katakan apa yang bisa kulakukan,’ kata El.

Bi meringis, Tuhan memang adil, jadi, bagaimana ia bisa mengeluh hidup ini kejam jika di saat seperti ini masih ada seseorang yang bisa ia andalkan?

‘Pasti, nanti kukabari. Tapi El, aku benar-benar harus pergi sekarang,’

Sebenarnya belum, ia belum ganti baju, hanya menyelesaikan make-up dan tatanan rambut, namun ia tidak akan membiarkan ponselnya dalam keadaan hidup dan El akan mendengarnya berganti pakaian bukan?

‘Baiklah, satu pesanku, jaga emosimu, jangan berbuat hal konyol.’

Bi tertawa mendengarnya.

‘Aku serius,’ kata El lagi.

I know,’

Well, good luck Baby. Telepon aku begitu kau selesai ok?’

‘Oke, and thanks, you know I need very best luck there is,’ kata Bi sambil menghela napas berat. Life indeed is suck.

‘Hey, jangan sedih dong. You know I love you right?’ Bi tertawa. ‘Cheer up ok? I’m here, always.’

I love you too El,’

Telepon ditutup.

Bi masih mematung di depan meja riasnya. Ia sedang menatap bayangan dirinya, ah, anggaplah ini sebagai salah satu petualangan, batinnya. Bi bangkit dan meraih gaun pendek hitam yang telah ia siapkan di kasur, gaun yang sederhana untuk wanita sekelas Bi.

Andai hidupnya sesederhana gaun ini.

Sigh

***

Untuk kesekian kalinya Bi menghela napas ketika ia menghentikan mobil di gerbang hotel berbintang 5—katanya sih milik…. well  siapapun yang akan ia temui nanti.

7:20 PM

Bi menyeringai ketika tanpa sengaja menangkap jam digital di dashboard. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana sang Ibu akan memanggangnya sepulang dari makan malam nanti. Mungkin dia perlu memilih bumbu olesnya dulu? Hm…

Fokus Bi!

Sebenarnya sang Ibu sudah mewanti-wanti untuk menggunakan sopir, namun apakah Bi namanya jika menuruti perintah beliau? Hasilnya? Jalan ditutup sementara ketika petugas pemadam kebakaran menyingkirkan mobil yang terguling dan Bi hanya berhenti dengan patuh karena dia tidak tahu jalan lain menuju hotel.

Bi menelengkan kepala, memperhatikan gerbang luar hotel di depannya. Sesuai dengan namanya Dragon Palace, meski berada di jantung kota, tidak menghalangi hotel ini untuk memiliki desain bergaya istana. Jalan berpaving melingkari sebuah air mancur yang tinggi besar dan berhalaman rumput super luas.

Damn. Tempat ini akan menjadi saksi perubahan hidupnya, nanti. Bi menghentikan mobil tepat di tengah-tengah gerbang kaca yang—lagi-lagi—luar biasa megah dengan ukiran naga disekeliling kusen besinya. Seketika, bayangan mengenai Triad[1] berkelebat di benaknya. Ia bukan datang untuk menemui salah satu anggota mereka kan?

‘Selamat malam Miss,’ seorang valet mengangguk dari luar jendela mobil membuat Bi tersadar dari lamunan absurd-nya. Dengan segera ia membuka kunci pintu, menyilakan si valet membukakan pintu untuknya. Bi menyerahkan kunci mobilnya belum sempat ia mengucapkan terima kasih atau apa, seorang staf hotel yang lain mendekatinya;

‘Selamat malam Miss Xu, silakan lewat sini.’

Bi hanya mengangguk dan mengikuti staf itu dari belakang.

Hotel ini lebih mewah dari yang ia bayangkan, mungkin karena inilah dihargai bintang 5? Sudah pasti, namun ada hal lain yang menarik perhatian seorang Bi, daisy. Karangan bunga yang bertebaran di hotel ini semua terbuat dari bunga daisy.

‘Anda menyukai bunga daisy juga?’ tanya staf hotel yang mengantarnya, mereka sedang menunggu pintu lift terbuka dan Bi sibuk memperhatikan karangan bunga di pojok pintu luar lift.

‘Oh, iya. Daisy bunga yang indah. Kalau aku perhatikan semua bunga di sini hanya daisy, apa ada alasan tertentu?’ Bi menelengkan kepala, mengecek nama staf tersebut, ‘Sonny?’

‘Benar, semua bunga di hotel kami selalu terdapat bunga daisy. Selain bunga resmi hotel, bunga ini juga merupakan bunga favorit CEO kami.’ Jelas Sonny.

Pintu lift terbuka dan keduanya masuk. Bi baru menyadari penjelasan Sonny ketika pandangan matanya jatuh pada dinding lift yang dihiasi karpet bermotif bunga daisy.

‘Bukankah logo hotel ini naga?’ tanya Bi penasaran, ia teringat naga yang melingkari gerbang hotel tadi.

‘Logo resmi memang naga dan bunga daisy adalah bunga resmi. Berbeda fungsi Miss. Xu, lagi pula untuk penggunaan seperti name-tag pegawai,’ Sonny menunjuk name-tag-nya. ‘Kami punya dua, naga dan daisy.’

‘Oh, benar.’ Bi melihat sekeliling. ‘Bahkan dindingnya semua bermotif daisy—‘

Lift berdenting, menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.

‘Silakan Miss,’

Dengan senyum yang dipaksakan, Bi tersenyum sebelum melangkah keluar lift. Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia semakin dekat dengan tempat eksekusi.

Keduanya berjalan membelah restoran bergaya western-klasik. Restoran yang tidak kalah mewah dari restoran-restoran berbintang di Geneva, perbedaannya, dulu Bi masuk restoran semegah ini sebagai staf pelayan sedangkan sekarang, ia menjadi salah satu tamu VIP, VVIP mungkin? Bisa jadi, menilik Sonny tidak terlihat akan berhenti di deretan meja-meja yang tersedia.

Benar saja, Sonny berhenti di depan pintu berdaun ganda dengan—lagi-lagi—dengan naga sebagai ganti kenop pintu.

‘Silakan Miss,’ kata Sonny mempersilakan Bi masuk ruangan.

Bi menghela napas dan memantabkan hatinya sebelum melangkah.

 

Selamat tinggal kehidupan lama.

______________________________

[1] Mafia transnasional yang berpusat di Hongkong, Makau, Cina, Taiwan dan negara-negara lain di mana etnis Cina tinggal.