Posted in book, novel, bahasa, fiction

Novel; 兰Lán Bab 1

兰Lán Daftar Isi

‘Ran, tolong sekalian bawakan bread ke luar ya, Kishen bilang bread-nya habis,’ pinta Helen. Keduanya sedang menurunkan piring-piring kotor di meja steward.

Okay!’ jawab Ran seraya meninggalkan meja steward dengan terburu-buru menuju cold kitchen, meraih empat  plastik bread ketika keluar ke restoran, tidak mempedulikan Auntie Patt yang sibuk mentertawakannya. Auntie Patt memang begitu, beliau selalu bisa memberi ruang dirinya sendiri untuk mentertawakan setiap waiter dan waitress yang sedang berperang memenuhi tuntutan dari ribuan tamu hotel yang sarapan. Katanya sih, staf restoran itu lucu kalau super sibuk begitu.

Ya, setiap pagi di Spice Brasserie—biasanya hanya disebut Spice—pasti super sibuk bahkan untuk kategori sepi, low season, masih ada setidaknya seribu orang yang sarapan setiap pagi. Sebagai restoran utama New Park Hotel, bekerja di Spice benar-benar membutuhkan tenaga ekstra, tidak ada waktu untuk bersantai. Terlebih jika kamu mendapat giliran morning crew. Hanya ada satu kata, perang! Cocok dengan namanya, Spice, hot, panas, sepanas tensi pekerjaannya eaaaa.

Selengkapnya baca di Storial

Advertisements
Posted in bahasa, book, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You, “Dilema.”

Bisa juga di baca di Storial

Huh?’ Kevin menatap Abi bingung. Ngomong apa dia?

‘Jadi….’ Abi mengaduk-aduk buburnya dan melanjutkan dengan suara kecil. ‘Kemarin Ray mengajakku nonton,’

‘Oh…. Lalu?’

Abi tidak menjawab, hanya mengeleng pelan.

‘Emang, kapan Ray ngajak nonton?’ tanya Kevin.

‘Besok malem minggu,’ jawab Abi kalem.

‘Nah kenapa nggak mau?’ tanya Kevin lagi.

‘Kapan aku bilang nggak mau?’ Abi bertanya balik.

Kevin menatap Abi dengan muka datar. Belakangan ini Abi memang aneh.

Lha tadi geleng kepala buat apa?’

‘Nggak tau….’ Erang Abi sambil menelungkup di meja—mangkok buburnya sudah disingkirkan ke samping.

‘Wah jadi ini serius ya,’ tanya Kevin, ia pun meninggalkan buburnya sejenak dan bersandar ke sandaran kursi, memperhatikan Abi dengan senyum dikulum. Abi mendongak, maksudnya? ‘Ini bukan sekedar idol-crush aja. Waah Abi udah mulai naksir cowok ya….’

Abi menghela napas kesal. ‘Udah deh, nggak usah godain,’

Kevin tertawa. ‘Oke, oke. Jadi gimana nih? Kau sendiri, suka nggak sama Ray?’

‘Yaaa…. Gimana, dia keren sih kalo main basket….’

‘Ya elah Bi, mau pacarin orangnya apa gayanya main basket?’

Lagi-lagi Abi menggeleng. ‘Nggak tau…. Kalau menurutmu gimana?’

‘Aku?’ Abi menggangguk dengan kepala masih menempel di meja. ‘Sori ya, gini-gini aku masih suka cewek.’

Abi spontan mengangkat kepalanya. ‘Maksudku kalau kau jadi aku idiot!’

‘Kalo itu nggak tau juga,’ Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ‘Aku lebih cakep dari Ray sih,’

Abi mendengus. ‘Maksudnya aku kudu pacaran sama situ?’

‘Ya, kalo situ mau sih,’ Kevin mengedipkan matanya sebelah dan Abi pura-pura muntah.

‘Nggak asik ah. Rugi nih dua mangkok bubur. Kepalaku malah tambah pusing!’ Abi bangkit dan meninggalkan kursinya.

‘Hei, hei…. Kok kabur? Buburmu gimana nih?’

‘Makan aja!’ teriak Abi, cewek itu menghampiri Bang Hadi yang sibuk mencuci mangkok dan mengulurkan selembar dua puluh ribuan. ‘Bayar Bang,’

‘Kok udah pulang? Kan Kevin belum selesai tuh?’ tanya Bang Hadi.

‘Biarin! Dia nyebelin, untung aku masih tepat janji buat bayarin makannya,’ kata Abi sambil merengut.

Healah begitu saja lho kok ngambek, biasanya Kevin juga nyebelin kan?’

Abi mencebik dan berpamitan. ‘Udah ah, aku pulang ya Bang,’

Bang Hadi melambaikan tangan. ‘Iya, hati-hati.’

Sementara Kevin hanya memandangi Abi yang meninggalkan warung, dalam hati bertanya-tanya seberapa serius perasaan suka Abi pada Ray dan kenapa ia semakin tidak suka dengan ide Ray yang juga menyukai Abi?

***

Selama dua hari Abi mendiamkan Kevin, rupanya gadis itu benar-benar kesal karena Kevin malah menggodanya dan tidak memberikan solusi atas masalahnya. Telepon Kevin tidak pernah dijawab, begitu juga dengan pesan-pesannya, hanya dibaca tanpa dibalas. Tentu hal ini membuat Kevin kelimpungan, ia tidak terbiasa tanpa kehadiran Abi, hidupnya terasa sepi, tidak ada yang diajak bertengkar, tidak ada yang merecokinya saat melukis.

‘Hari Jum’at,’ gumam Kevin. Berarti Abi akan kencan besok, jadi ga ya? Sebaiknya sih nggak jadi—eh? Pergulatan batinnya mengejutkan Kevin sendiri, kenapa ia tidak suka dengan ide Abi kencan dengan Ray besok? Tapi…. Alasan ia tidak suka Ray karena cowok itu punya potensi mencuri teman baiknya kan? Bukan karena alasan yang lain, ia menyukai Abi misalnya?

Kevin tersedak ludahnya sendiri ketika menyadari hal itu. Menyukai Abi? Masa? Mereka berdua telah bersama-sama sejak bayi, bahkan lahir pun di rumah sakit yang sama, rumah bersebelahan, sekolah dari playgroup sampai kuliah bersama-sama. Baru terpisah kelas sejak kelas dua SMA hingga sekarang—walaupun untuk beberapa mata kuliah mereka masih sekelas. Sebagai catatan tambahan mereka belum pernah benar-benar pacaran, untuk Abi, ibu Abi tidak mengijinkan putrinya berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jika Ray ini benar-benar terjadi, maka cowok itu akan menjadi pacar pertama Abi.

Kevin sendiri?

Cowok itu mengerang di kursinya, sekarang ia baru menyadari kalau dirinya juga belum pernah punya pacar. Teman cewek sih banyak tapi yang menyita waktunya sebanyak Abi, belum ada. Hanya Abi.

Kevin meninggalkan meja belajar dan berjalan ke jendela, niatnya untuk belajar menguap seketika. Melalui jendelanya ia bisa melihat kamar Abi yang juga masih terang—rumah mereka sama-sama di pojok blok masing-masing  hanya terpisahkan jalan berpaving. Abi ngapain ya? Kevin meraih white board kecil yang diletakkan menyandar di tembok di bawah jendela, ia menulis;

Lagi ngapain?

Kemudian memeganginya di kusen jendela, menuggu dan berdo’a Abi muncul di jendela kamarnya seperti biasa—sejak kemarin pun Abi tidak terlihat bermain-main di jendela seperti biasanya. Agaknya Tuhan menjawab do’a Kevin ketika Abi melakukan sesuatu dengan gordennya, sepertinya ada kait yang tersangkut ke kait lainnya dan pada akhirnya ia menyadari ada Kevin berdiri di jendela kamarnya di sana. Kevin tahu Abi membaca white board-nya kerena air muka gadis itu berubah.

Abi cemberut, Kevin tersenyum, Abi makin cemberut dan Kevin tertawa.

Abi menunduk dan meraih white board miliknya yang juga diletakkan di bawah jendela lalu menulis sesuatu untuk diperlihatkan pada Kevin.

Udah punya nyali bicara denganku?

Satu alis Kevin terangkat naik.

Sori

Kevin menulis dan memperlihatkannya pada Abi.

Abi mencebik.

Kevin menurunkan white board-nya dan menghapus dua tulisan pertama untuk menggantinya dengan tulisan baru.

Jadi nontonnya?

Ga tau -.-

Abi meletakkan dahinya ke tepi white board yang dipegangnya. Putus asa.

Apa kau mau aku ikut?

Tulis Kevin selanjutnya, langsung membuat Abi mendelik. Ikut? Dengan cepat Kevin menghapus tulisan yang lain dan menggantinya dengan yang baru.

Lha kayaknya ragu-ragu terus gitu?

Kau bukan cewek sih?

Tulis Abi. Lalu tanpa pikir panjang Kevin menulis balasan yang langsung di sesalinya.

Lah kalo suka ya pergi aja kok repot?

Ngomong sama sama tembok emang bikin emosi!

Dengan cepat Abi menurunkan white board dan kedua tangannya meraih ujung-ujung gorden, menutupnya dengan marah.

‘Lho, lho Bi! Abi?!’ teriak Kevin dari jendela seberang. Namun Abi tidak peduli dan membiarkan gordennya tetap menutup.

Kevin menghela napas, sialan. Setelah menunggu beberapa saat dan Abi sepertinya tidak akan membuka gorden kembali dalam waktu dekat, Kevin akhirnya kembali ke dalam, menjatuhkan diri ke kasur. Cewek emang susah dimengerti! Kayaknya aku salah ngomong ke aku sendiri deh, lah kenapa dia yang marah? Kalo emang dia suka ya udah sana pergi. Tapi emang aku ga suka sih dia pergi nonton sama Ray. Kalo mau nonton sama aku juga bisa kan?

Kevin menghela napas dan meraih white board-nya

Jangan pergi

Kemudian meletakkannya di jendela sedang ia sendiri kembali ke kasur, kembali memikirkan percakapan mereka barusan, juga pesan yang ia tulis di white board. Kok aku kayak ABG yang labil ya? Tadi bilang silakan pergi tapi sekarang bilang jangan pergi. Apa hakku melarang Abi pergi? Argh….

Kevin bangkit lagi dan menurunkan white board-nya. Gorden kamar Abi masih tertutup hanya sedikit menggembung ketika tertiup angin. Semoga Abi tidak membaca tulisan tadi! Tangannya menjulur meraih ponsel di bawah bantal dan mengirim pesan pada Abi sebelum ia berubah pikiran walau ia tahu akan menyesalinya nanti, namun untuk saat ini, ia merasa inilah tindakannya yang paling benar untuk dilakukan.

Pergi lah nonton, ambil kesempatan selagi bisa.

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Kayaknyadiasukasamaaku.”

‘Jadi, bisa diceritakan kenapa kau mengajakku makan bubur? Bukannya makan bubur itu kayak orang sakit?’ tanya Kevin.

Abi mendongak dan sedikit melongokkan kepalanya, melihat mangkok bubur Kevin yang sudah tinggal separuh sedangkan miliknya nyaris masih utuh. Apa tenggorokannya anak itu terbuat dari besi tahan panas? Ia mengerucutkan bibir sebelum menjawab pertanyaan Kevin—dengan ragu-ragu.

‘Ray…. Diakayaknyasukasamaaku.’ Jawab Abi dengan cepat.

 

Baca selengkapnya Kayaknyadiasukasamaaku

Posted in bahasa, Cerita Pendek, oneshoot, short story

Cerpen; Morning Sun

Morning Sun,’ sapa Albert seraya menghampiri Sunday yang membuka pintu kafe.

Morning Al,’ Sunday menjawab sapaan Albert sambari menengok sekeliling. Kafe masih sepi untuk ukuran hari Minggu. Sedikit tidak biasa dan orang yang dicarinya tidak ada—atau belum datang.

‘Pagi-pagi udah ke sini, mau kencan sama Pak Boss?’ tanya Albert setengah menggoda. Sunday hanya meringis sebagai jawaban. ‘Beliau belum dateng tuh?’

Sunday melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya, hadiah ulang tahun dari sang kekasih beberapa bulan yang lalu.

‘Kebiasaan terlambat. Menyebalkan,’ gumam Sunday.

‘Mau ditunggu di dalam?’ tanya Albert dan disambut anggukan Sunday. ‘Pesen seperti biasa?’

‘Boleh, sama 1 croissant ya,’

‘Sip.’

Baca selengkapnya Morning Sun

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Restoran”

‘Sepi ya,’ kata Kevin sambil melihat sekeliling. Selain meja mereka, hanya ada dua meja lain yang terisi, sepasang kakek nenek di satu meja dan tiga orang cewek di meja yang lain.

‘Padahal tadi Tante Lina bilang “aduuuh untung kamu cepet pesen tempat, udah di pesen grup lho”.’ Abi menirukan suara Tante Lina, si pemilik restoran.

Kevin tertawa. ‘Mungkin mereka belum datang?’

Restoran ini memang cukup terkenal, selain karena harganya yang cukup terjangkau dan pilihan menu filling yang beragam, sup di sini memang nomor satu! Resep keluarga kata Tante Lina ketika Abi bertanya, rahasia sup hotpot-nya yang enak. Sayangnya lagi, restoran ini termasuk kecil jika dibandingkan restoran-restoran saingannya. Pernah Abi mengusulkan untuk merenovasi restoran dan menambah ruangan, namun Tante Lina enggan melakukannya dengan alasan, semakin besar restoran beliau makin susah untuk mengontrol kualitas menu yang disajikan. Ada benarnya juga sih.

Baca selengkapnya Restoran

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You “Jangan Pergi”

Jangan pergi

Tulisan cakar ayam dengan spidol hitam itu masih tetap seperti enam bulan yang lalu ketika Kevin menulisnya sebagai jawaban untuk Abi yang bertanya apa ia boleh pergi nonton bersama Ray—cowok gebetan Abi. Hanya beberapa bagian yang sudah terhapus oleh waktu, sisanya, masih jelas terbaca.

Semua bermula dari seorang mahasiswa transfer dari  Vancouver bernama Ray. Di mata Kevin cowok itu biasa saja—apalagi di awal-awal ia pindah—di kampus pun dia tidak terlalu dibicarakan, intinya bukan tipe seorang idola lah, namun entah kenapa Abi tergila-gila padanya. Tidak hanya sekedar mengidolakan, Abi pun mulai mengikuti setiap kegiatan yang Ray ikuti salah satu dan yang paling utama adalah basket.

Ray baru terlihat menonjol ketika ia bergabung dengan tim basket kampus, tidak hanya dengan kemampuan memainkan bola yang di atas kemampuan pemain lain. Ia juga lebih tinggi daripada rata-rata orang bule—apalagi orang Indonesia?—dan wajah perpaduan ras Kaukasoid dan Cina membuatnya tampak berbeda dengan mahasiswa kebanyakan di sini. Kevin mengakui hal itu—dan entah kenapa membuatnya semakin kesal.

Baca selengkapnya Jangan Pergi

Posted in bahasa, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, oneshoot

Songfiction; Michelle Branch – Goodbye to You

Susan meringis menahan sakit ketika jarum menembus kulitnya, sesekali Matthew, si tukang tato mengusap darah yang merembes keluar.

‘Kau nggak takut Ibumu?’ tanya Matthew ditengah-tengah kesibukannya merajah sisi luar lengan kanan atas Susan.

‘Dia nggak akan bisa berbuat apapun kalau aku pulang dengan tato di tangan dan aku juga nggak peduli. Aku bukan anak kecil lagi.’

‘Tentu,’ Matthew tertawa, seraya mengusap darah di lengan Susan. ‘Paling beliau akan kemari dan mengancam akan menutup salonku.’

‘Dan dia akan tahu kalau usahanya sia-sia,’ tambah Susan sambil tertawa.

‘Kau benar-benar akan pergi?’ tanya Matthew lagi.

Susan mengangguk. ‘Ini kesempatan sekali seumur hidup Matt, do or die,’

Baca selengkapnya Goodbye to You

Video oleh Warner Bros. Records

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, oneshoot, short story

Cerpen; “Lunch”

fa47fc7a562e998f166d39300a43660e

Tok tok tok

‘Halo, masih sibuk?’ tanya Yuan sambil melongok dari pintu yang setengah terbuka.

Ji yang sibuk dengan desainnya mendongak, tersenyum melihat sahabatnya datang berkunjung.

‘Aku selalu sibuk,’ jawab Ji.

‘Yeah, rasanya aku nggak pernah melihatmu bersantai,’ Yuan menjulurkan lidah lalu mengangkat tangan kanannya, ‘makan siang~’

Ji tertawa, kali ini ia meninggalkan peralatan gambarnya dan bangkit menyambut Yuan dan makan siang yang dibawanya.

‘Aku tahu kau akan menolak kalau kubilang kita makan siang di luar,’

You know me so well,’ Ji kembali terkekeh.

‘Kayaknya itu judul lagu?’

Ji mengangkat bahu, melewati Yuan, ia membuka kulkas dan mengambil dua botol air putih sedangkan Yuan mengeluarkan kotak makan siang dan menatanya di meja.

‘Ini untuk musim kapan?’ tanya Yuan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di satu dinding dipenuhi foto-foto desain, di pojok ruangan ada setumpuk kain contoh, bersebelahan dengan mannequin yang berlimpangan. Pita, renda dan berbagai asesoris yang lain menggunung di sudut  yang lain.

‘Musim semi dan panas tahun depan.’ Jawab Ji pendek, meletakkan dua botol air putih di meja, Ji menarik kursi di seberang Yuan, meneliti menu makan siang yang dibawakan Yuan. ‘Jenius sekali kau, sudah lama aku ingin makan sushi,’ komentar Ji.

Yuan mendengus. ‘Aku juga heran kenapa bisa berteman dengan manusia pelit sepertimu, pengin makan sushi saja nunggu dibelikan teman.’

‘Aku bukannya pelit, kau tahu kan aku sibuk, akan ada launching flagship-store baru juga.’ Ujar Ji membela diri.

‘Alasan,’ cibir Yuan. Ji hanya mengangkat bahu tidak peduli, aneka sushi di depannya ini lebih menggoda daripada beradu argumen dengan Yuan. Dengan segera Ji merobek bungkus sumpit dan memecah alat makan terbuat dari bambu tersebut menjadi dua untuk mulai menikmati makanan idaman gratis.

‘Lima tahun,’ ucap Yuan tiba-tiba.

Ji yang masih fokus dengan aneka sushi di hadapannya sontak mengangkat kepala. Yuan duduk dikursinya sambil bertopang dagu, ia belum menyentuh makan siangnya sama sekali dan hanya memperhatikan Ji memindahkan sushi satu per satu dari kotak ke mulutnya.

‘Ada apa dengan lima tahun?’ tanya Ji seraya meraih botol air putih, membuka tutupnya dan meneguk cairan di dalamnya kemudian meletakkan kembali ke meja.

‘Aku nggak tahu harus senang atau sedih melihatmu seperti ini.’ Lanjut Yuan. ‘Di satu sisi aku melihatmu mengatasi rasa sakit dengan baik tapi di sisi lain kau hidup dalam kenangan dan rasa sakit itu sendiri.’

‘Ah…. Jadi kau melihatnya seperti itu?’ Ji tertawa kecil. ‘Aku baik-baik saja, aku menikmatinya.’

Yuan menghela napas, diakui atau tidak ia prihatin terhadap sahabatnya, kenapa ia memilih jalan ini?

‘Sampai kapan kau akan terus begini?’ tanyanya.

‘Maksudnya?’

‘Menggunakan rasa sakitmu sebagai kekuatan untuk hidup.’

Ji tersenyum sebelum menjawab;

‘Kau tahu semua hal yang terjadi pada diri kita sebenarnya tidak ada yang buruk, hanya tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Tentu, amat sangat menyakitkan ketika kau kehilangan seseorang, apalagi seseorang yang seharusnya menjadi putra pertamamu. Kau tidak akan pernah bisa membayangkannya. Berulang kali bertanya pada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan? Kenapa? Kenapa Tuhan mengambilnya disaat aku sangat membutuhkan dia untuk menyelamatkan pernikahan kami. Apa salahku?

‘Tapi kemudian aku sadar, inilah yang terbaik, coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ia lahir, lalu, belum genap ia berusia tiga tahun dan orang tuanya bercerai. Disaat ia membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, ia hanya mendapat dari satu sisi. Bagus kalau tidak ada efek negatif untuk psikologisnya kelak, bagaimana jika ia sampai trauma atau semacamnya? Bukankah itu lebih menakutkan?’

‘Mungkin saja jika ia lahir, pernikahanmu akan punya akhir yang berbeda,’ kata Yuan.

‘Dan membuatnya terpaksa tinggal hanya karena anak? Tidak terima kasih.’ Ji menggeleng. ‘Kalau dia ingin tinggal, aku ingin karena memang dia benar-benar ingin tinggal bukan tinggal karena sesuatu. Bagiku, sebelum memberi anak kebahagiaan, orang tua haruslah bahagia terlebih dulu, kalau tidak, bagaimana mereka akan tahu perasaan seperti apa yang hendak mereka berikan pada anaknya?

‘Aku merasa dengan begini aku bisa tumbuh bersamanya, melihat ibu-ibu muda begitu bahagia dan puas ketika melihat anak-anak mereka terlihat cantik dan tampan dengan memakai rancanganku, itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga untukku. Aku merasa melihat anakku sendiri memakai baju-baju yang kubuat.’

‘Benar juga,’ Yuan menarik tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi. ‘Tapi Ji, sudah lima tahun, kau masih belum merelakannya juga?’

‘Siapa bilang?’ Ji bertanya balik. ‘Darimana kau dapat ide kalau aku belum merelakannya?’

‘Hari-hari kau mengurung diri di sini, tidak berkencan, tidak membuka diri—‘

‘Itu!’ seru Ji seraya menunjuk Yuan. ‘Tuduhan yang salah dan tidak berdasar. Aku mengurung diri di sini bukan berarti aku tidak membuka diri.’

Yuan nyaris meloncat begitu mendengar pembelaan diri Ji.

‘Apa ini? Kau berkencan dengan siapa? Apa aku tahu orangnya?’ berondong Yuan. Ji tidak menjawab dan hanya tersenyum jahil. ‘Ah…. Nggak seru nih, pelit amat, pakai rahasiaan segala.’ Ji tertawa. ‘Inilah yang paling aku suka dari dirimu adalah sikap positifmu Ji.’

‘Tuhan sayang pada orang-orang yang berpikir positif. Negativity nggak akan membawamu kemana-mana,’ Ji tertawa makin lebar.

‘Betul, betul,’ Yuan mengangguk setuju. ‘Jadi…. Kapan nih aku dikenalin?’

Lagi-lagi Ji tidak menjawab, ia meraih botol air putih dan mengedipkan sebelah matanya.

‘Terlalu banyak ingin tahu itu nggak baik Yu,’

 


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.

 

 

 

 

Posted in bahasa, book, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, fanfiction, oneshoot, short story

Songfic; Michelle Branch – Goodbye To You

Susan meringis menahan sakit ketika jarum menembus kulitnya, sesekali Matthew, si tukang tato mengusap darah yang merembes keluar.

‘Kau nggak takut Ibumu?’ tanya Matthew ditengah-tengah kesibukannya merajah sisi luar lengan kanan atas Susan.

‘Dia nggak akan bisa berbuat apapun kalau aku pulang dengan tato di tangan dan aku juga nggak peduli. Aku bukan anak kecil lagi.’

‘Tentu,’ Matthew tertawa, seraya mengusap darah di lengan Susan. ‘Paling beliau akan kemari dan mengancam akan menutup salonku.’

‘Dan dia akan tahu kalau usahanya sia-sia,’ tambah Susan sambil tertawa.

‘Kau benar-benar akan pergi?’ tanya Matthew lagi.

Susan mengangguk. ‘Ini kesempatan sekali seumur hidup Matt, do or die lah,’

 

Baca selengkapnya Goodbye To You

video oleh Warner Bros. Records