Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 5.4 Status

Bisa juga di baca di Storial

‘El kemana?’ tanya Bi begitu masuk dapur kafe.

Bloody hell! Bi!’ seru Paul terkejut, ia nyaris menjatuhkan ponselnya. Bi memicingkan mata melihat reaksi Paul yang menurutnya sedikit berlebihan. ‘Bisa kan kau bersuara kalau masuk?’

‘Kau tidak mendengarku membuka pintu?’ tanya Bi heran padahal pintu dapur suka bereketek-keretek kalau dibuka atau ditutup.

Paul menggeleng dan menyimpan ponsel di saku celemeknya, menghela napas dalam sebelum kembali  menimbang tepung.

‘Aku tanya El kemana? Di atas nggak ada,’ Bi mengulang pertanyaan yang belum terjawab seraya membuka lemari kayu tempat celemek cadangan dan berbagai macam serbet disimpan.

‘Bos pulang sejak sore tadi, memang belum kembali?’

‘Pulang?’ ulang Bi, Paul hanya bergumam malas sebagai jawaban. Bi telah memakai celemek dan sedang mengelung rambutnya ke dalam topi. ‘Dan ada apa dengan mukamu itu?’ tanya Bi lagi.

‘Aku waktunya pulang,’ jawab Paul, masih dengan kesibukan menimbang tepung dan memasukkannya ke beberapa baskom ukur.

‘Lalu?’

‘Harus stay-back, Smith diare, dia nggak masuk.’

‘Oh ceritanya kau keberatan gitu? Smith pasti juga nggak sengaja kan? Masa orang sakit direncanakan?’ Ujar Bi sambil melihat-lihat baskom ukur di meja panjang. ‘Banyak amat bikinnya,’

‘Aku tahu sih, aku juga nggak keberatan sebenernya cuman…. aku ada janji kencan…,’

Spontan Bi tergelak mendengar alasan yang sebenarnya di balik wajah cemberut Paul.

‘Nggak usah ngetawain deh, mentang-mentang yang tadi habis kencan seharian,’ sungut Paul.

‘Haha…, ya sudah sana pulang, ini biar aku yang kerjain.’ Kata Bi.

Paul sontak mengangkat muka tidak percaya. ‘Yang bener Bi?’

‘Iya sana pergi sebelum aku berubah pikiran lho,’

‘Awww…,’ pekik Paul kegirangan, ia mengitari meja tempat ia bekerja dan memeluk Bi erat-erat. ‘Bianca emang the best!’

‘Ew, apaan nih lepas,’ Bi tertawa.

Super thanks Bi!’

Paul melepaskan pelukannya dan dengan segera melepas celemek dan topi, melemparnya ke keranjang kain kotor. Namun sebelum ia keluar dapur, Paul berbalik dan mencium pipi Bi.

‘Ya!’ pekik Bi terkejut.

Anyway, ada beberapa yang belum di-icing, bye Bi,’ teriaknya sambil berlari keluar.

‘Hah?!’

Tidak mempedulikan Bi yang makin shock dengan tugas tambahan menghias kue, Paul segera melesat pergi, meninggalkan dapur sebelum Bi mengurungkan niatnya menggantikan tugas Smith malam ini. Sorry Bi.

Bi bergegas membuka lemari stainless tempat penyimpanan kue dan donat yang belum di-icing. Benar saja, lemari penuh dengan kue dan donat yang belum jadi. Damn you Paul.

You owe me big time Po,

Paul mengirim pesan balasan hanya dengan stiker pria dan wanita saling berpelukan.

‘Dasar,’ Bi tertawa kecil membaca pesan balasan dari Paul. Baiklah, mari mulai bekerja, semangat!

Menyalakan musik dari ponselnya, Bi mulai mengerjakan satu persatu tugasnya, beruntung Paul telah selesai menyiapkan semua adonan jadi yang perlu ia lakukan hanya meletakkan baskom berisi bahan-bahan ke dalam mixer satu persatu dan mencetaknya. Muffin, croissant, pie….

‘Jangan berdiri saja, kemari bantu aku,’ kata Bi tanpa mengalihkan perhatiannya dari menggulung adonan croissant dan meletakkannya di loyang ketika merasakan kehadiran seseorang di dapur.

El yang berdiri di ambang pintu tertawa kecil dan menghampiri Bi yang sibuk dengan adonan-adonannya.

‘Anak-anak kemana?’ tanya El seraya melepas jaket dan menggulung kemejanya hingga ke siku.

‘Smith diare dan Paul ada janji kencan, jadi ku suruh pulang.’ jelas Bi.

‘Dan kau di sini berkorban demi mereka?’ tanya El, ia meraih satu adonan croissant yang telah dipotong, diisi keju lalu digulung.

‘Nggak juga, ada kau yang bantu kan?’ jawab Bi cuek.

‘Hanya aku bos yang mengerjakan pekerjaan seperti ini dan membiarkan anak buahku berkencan, miris,’

‘Makanya segera cari pacar,’ timpal Bi.

‘Sombong, mentang-mentang barusan kencan. Ngomong-ngomong gimana kencannya?’ tanya El.

‘Nggak gimana-gimana, memang mau gimana?’ Bi bertanya balik.

‘Ya, Al itu orangnya seperti apa kalau di luar kantor misalnya?’

‘Entahlah, aku kan nggak tahu bagaimana kalau dia di kantor dan kami hanya makan.’

‘Seharian cuma makan?’ tanya El tidak percaya.

‘Keluar kota, kau tahulah Tuan Muda,’ Bi tertawa. ‘Kami mengunjungi mantan Nanny-nya yang kebetulan punya stall makanan.’

El tidak menyahut, dia hanya menggulung adonan dalam diam, Bi sendiri sibuk menggiling adonan untuk dipotong-potong lalu menyimpannya di kulkas.

‘Menyenangkan melihatmu seperti ini,’ kata El. Bi yang sedang menyimpan adonan di kulkas menoleh dengan kedua alis bertaut di tengah-tengah. Maksudnya? ‘Kuharap Al bisa membuka sesuatu yang kau simpan selama bertahun-tahun Bi,’

‘Kau ini bicara apa?’ tanya Bi bingung.

El meninggalkan pekerjaannya dan berbalik, menyandarkan bokongnya di tepi meja, menatap Bi tepat di kedua matanya.

‘Akuilah, kau menyembunyikan sesuatu, kau takut dengan keberadaan sesuatu tersebut, makanya kau terus menerus menyangkalnya bahkan terhadap dirimu sendiri. Berapa puluh tahun telah berlalu Bi? Sudah saatnya kau membebaskan dirimu.’

Bi menutup pintu kulkas dengan pelan, ia benci pembicaraan serius seperti ini, di atas semuanya ia benci dengan kenyataan ia selalu telanjang dihadapan El.

‘Haruskah?’

‘Buat hidupmu lebih mudah Bi,’

‘Entahlah,’ Bi mengangkat bahu. ‘Theo bicara dengan Al mengenai Papa yang memintaku bekerja.’

‘Lalu?’

Bi menggeleng, ia menyiapkan oven dan memasukkan loyang-loyang berisi croissant. ‘Dia menyiapkan projek untukku kurasa?’

‘Aku juga serius akan membuka bakery, terserah kau bersamaku atau Al, aku nggak masalah.’

‘Astaga, kau juga El?’ tanya Bi dengan alis terangkat. Ada apa dengan orang-orang ini?

‘Pernahkah kau berpikir betapa sulitnya orang tuamu menjawab pertanyaan yang paling ringan ketika mereka bertemu siapa saja di luar sana?’

Kening Bi berkerut, maksudnya?

‘Anggap kita berpikir orang tuamu berpikiran sempit. Apa pernah kau berpikir bagaimana mereka menjawab ketika ada kolega yang bertanya; ‘Putrimu bekerja di mana?’ mereka mau jawab apa? Mau jawab tidak bekerja, begitu? Di mana harga diri mereka? Kau pewaris satu-satunya, semua orang tahu itu. Apa direksi bisa percaya denganmu jika kau sama sekali tidak punya sesuatu yang bisa diandalkan? Kau tidak pernah sekalipun menginjakkan kakimu di perusahaan. Bahkan namamu pun nyaris tidak pernah terdengar sebelum pengumuman pertunanganmu dengan Al. Hanya Theo, dan mereka tahu Theo bukanlah siapa-siapa. Pernah kau memikirkan semua itu?’

‘Wow,’ Bi menggeleng tidak percaya mendengar semuanya. Sedikitpun ia tidak pernah berpikir ke sana.

‘Karenanya kupikir, pernikahan adalah jalan yang paling tepat dan cepat, paling tidak Ayahmu bisa mendapat garansi kepercayaan dan direksi tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dan posisimu aman. Kalau dipikir-pikir lagi semua ini untukmu juga. Sedang Ibumu, beliau tidak perlu bingung menjawab pertanyaan usil, tinggal bilang, putriku menantu Keluarga Li, urusan selesai.’

‘Darimana kau bisa berpikir sejauh ini?’

‘Pengalaman.’ Jawab El pendek.

Bi mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum menarik kursi dan menjatuhkan dirinya di sana, dengan bertopang dagu ia bertanya; ‘Jadi menurutmu aku harus menerima tawaran Al?’

El tersenyum dan menyentil dahi Bi. ‘Jangan lupa, aku juga memberimu tawaran idiot.’

‘Kau memang pandai memperkeruh suasana El,’ gerutu Bi sambil mengusap-usap dahinya.

‘Nggak berpikir mengenai Al?’

‘Ada apa dengannya?’

Perhaps he has feeling for you? Maksudku, dia sepertinya baik-baik saja dan menerima perjodohan ini dengan hati terbuka.’

Bi spontan tertawa, teringat olehnya ucapan Al ketika mereka pertama kali bertemu; Aku tidak secepat itu dalam menilai sesuatu. Aku akan mempelajari sebelum memutuskan. Jadi kemungkinan Al punya perasaan khusus terhadapnya adalah…. Absurd.

I’m officially courting you.

‘Oh,’ Bi rasanya tertampar begitu mengingat ucapan Al. Benarkah?

Flick!

El menjetikkan jarinya tepat di depan mata Bi, membuatnya mengerjap karena terkejut. Tidak, Al tidak serius, ini semata-mata untuk bisnis.

‘Apaan sih?!’

‘Aku yang harusnya tanya, ada sesuatu yang terjadi dan kau belum memberitahuku,’ selidik El.

‘Dia hanya melakukan tugasnya.’ Kata Bi. Benar begitu, tidak ada maksud yang lain.

‘Maksudnya?’

‘Kau kan tahu ini semua semata-mata untuk bisnis, bicara soal itu, aku baru ingat aku belum mencari info tentang siapa memanfaatkan siapa,’

‘Kau tahu Bi?’ El tersenyum jahil. ‘Aku bisa mencium kebohongan walau itu bermil-mil jauhnya.

 

Advertisements
Posted in bahasa, book, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You, “Dilema.”

Bisa juga di baca di Storial

Huh?’ Kevin menatap Abi bingung. Ngomong apa dia?

‘Jadi….’ Abi mengaduk-aduk buburnya dan melanjutkan dengan suara kecil. ‘Kemarin Ray mengajakku nonton,’

‘Oh…. Lalu?’

Abi tidak menjawab, hanya mengeleng pelan.

‘Emang, kapan Ray ngajak nonton?’ tanya Kevin.

‘Besok malem minggu,’ jawab Abi kalem.

‘Nah kenapa nggak mau?’ tanya Kevin lagi.

‘Kapan aku bilang nggak mau?’ Abi bertanya balik.

Kevin menatap Abi dengan muka datar. Belakangan ini Abi memang aneh.

Lha tadi geleng kepala buat apa?’

‘Nggak tau….’ Erang Abi sambil menelungkup di meja—mangkok buburnya sudah disingkirkan ke samping.

‘Wah jadi ini serius ya,’ tanya Kevin, ia pun meninggalkan buburnya sejenak dan bersandar ke sandaran kursi, memperhatikan Abi dengan senyum dikulum. Abi mendongak, maksudnya? ‘Ini bukan sekedar idol-crush aja. Waah Abi udah mulai naksir cowok ya….’

Abi menghela napas kesal. ‘Udah deh, nggak usah godain,’

Kevin tertawa. ‘Oke, oke. Jadi gimana nih? Kau sendiri, suka nggak sama Ray?’

‘Yaaa…. Gimana, dia keren sih kalo main basket….’

‘Ya elah Bi, mau pacarin orangnya apa gayanya main basket?’

Lagi-lagi Abi menggeleng. ‘Nggak tau…. Kalau menurutmu gimana?’

‘Aku?’ Abi menggangguk dengan kepala masih menempel di meja. ‘Sori ya, gini-gini aku masih suka cewek.’

Abi spontan mengangkat kepalanya. ‘Maksudku kalau kau jadi aku idiot!’

‘Kalo itu nggak tau juga,’ Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ‘Aku lebih cakep dari Ray sih,’

Abi mendengus. ‘Maksudnya aku kudu pacaran sama situ?’

‘Ya, kalo situ mau sih,’ Kevin mengedipkan matanya sebelah dan Abi pura-pura muntah.

‘Nggak asik ah. Rugi nih dua mangkok bubur. Kepalaku malah tambah pusing!’ Abi bangkit dan meninggalkan kursinya.

‘Hei, hei…. Kok kabur? Buburmu gimana nih?’

‘Makan aja!’ teriak Abi, cewek itu menghampiri Bang Hadi yang sibuk mencuci mangkok dan mengulurkan selembar dua puluh ribuan. ‘Bayar Bang,’

‘Kok udah pulang? Kan Kevin belum selesai tuh?’ tanya Bang Hadi.

‘Biarin! Dia nyebelin, untung aku masih tepat janji buat bayarin makannya,’ kata Abi sambil merengut.

Healah begitu saja lho kok ngambek, biasanya Kevin juga nyebelin kan?’

Abi mencebik dan berpamitan. ‘Udah ah, aku pulang ya Bang,’

Bang Hadi melambaikan tangan. ‘Iya, hati-hati.’

Sementara Kevin hanya memandangi Abi yang meninggalkan warung, dalam hati bertanya-tanya seberapa serius perasaan suka Abi pada Ray dan kenapa ia semakin tidak suka dengan ide Ray yang juga menyukai Abi?

***

Selama dua hari Abi mendiamkan Kevin, rupanya gadis itu benar-benar kesal karena Kevin malah menggodanya dan tidak memberikan solusi atas masalahnya. Telepon Kevin tidak pernah dijawab, begitu juga dengan pesan-pesannya, hanya dibaca tanpa dibalas. Tentu hal ini membuat Kevin kelimpungan, ia tidak terbiasa tanpa kehadiran Abi, hidupnya terasa sepi, tidak ada yang diajak bertengkar, tidak ada yang merecokinya saat melukis.

‘Hari Jum’at,’ gumam Kevin. Berarti Abi akan kencan besok, jadi ga ya? Sebaiknya sih nggak jadi—eh? Pergulatan batinnya mengejutkan Kevin sendiri, kenapa ia tidak suka dengan ide Abi kencan dengan Ray besok? Tapi…. Alasan ia tidak suka Ray karena cowok itu punya potensi mencuri teman baiknya kan? Bukan karena alasan yang lain, ia menyukai Abi misalnya?

Kevin tersedak ludahnya sendiri ketika menyadari hal itu. Menyukai Abi? Masa? Mereka berdua telah bersama-sama sejak bayi, bahkan lahir pun di rumah sakit yang sama, rumah bersebelahan, sekolah dari playgroup sampai kuliah bersama-sama. Baru terpisah kelas sejak kelas dua SMA hingga sekarang—walaupun untuk beberapa mata kuliah mereka masih sekelas. Sebagai catatan tambahan mereka belum pernah benar-benar pacaran, untuk Abi, ibu Abi tidak mengijinkan putrinya berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jika Ray ini benar-benar terjadi, maka cowok itu akan menjadi pacar pertama Abi.

Kevin sendiri?

Cowok itu mengerang di kursinya, sekarang ia baru menyadari kalau dirinya juga belum pernah punya pacar. Teman cewek sih banyak tapi yang menyita waktunya sebanyak Abi, belum ada. Hanya Abi.

Kevin meninggalkan meja belajar dan berjalan ke jendela, niatnya untuk belajar menguap seketika. Melalui jendelanya ia bisa melihat kamar Abi yang juga masih terang—rumah mereka sama-sama di pojok blok masing-masing  hanya terpisahkan jalan berpaving. Abi ngapain ya? Kevin meraih white board kecil yang diletakkan menyandar di tembok di bawah jendela, ia menulis;

Lagi ngapain?

Kemudian memeganginya di kusen jendela, menuggu dan berdo’a Abi muncul di jendela kamarnya seperti biasa—sejak kemarin pun Abi tidak terlihat bermain-main di jendela seperti biasanya. Agaknya Tuhan menjawab do’a Kevin ketika Abi melakukan sesuatu dengan gordennya, sepertinya ada kait yang tersangkut ke kait lainnya dan pada akhirnya ia menyadari ada Kevin berdiri di jendela kamarnya di sana. Kevin tahu Abi membaca white board-nya kerena air muka gadis itu berubah.

Abi cemberut, Kevin tersenyum, Abi makin cemberut dan Kevin tertawa.

Abi menunduk dan meraih white board miliknya yang juga diletakkan di bawah jendela lalu menulis sesuatu untuk diperlihatkan pada Kevin.

Udah punya nyali bicara denganku?

Satu alis Kevin terangkat naik.

Sori

Kevin menulis dan memperlihatkannya pada Abi.

Abi mencebik.

Kevin menurunkan white board-nya dan menghapus dua tulisan pertama untuk menggantinya dengan tulisan baru.

Jadi nontonnya?

Ga tau -.-

Abi meletakkan dahinya ke tepi white board yang dipegangnya. Putus asa.

Apa kau mau aku ikut?

Tulis Kevin selanjutnya, langsung membuat Abi mendelik. Ikut? Dengan cepat Kevin menghapus tulisan yang lain dan menggantinya dengan yang baru.

Lha kayaknya ragu-ragu terus gitu?

Kau bukan cewek sih?

Tulis Abi. Lalu tanpa pikir panjang Kevin menulis balasan yang langsung di sesalinya.

Lah kalo suka ya pergi aja kok repot?

Ngomong sama sama tembok emang bikin emosi!

Dengan cepat Abi menurunkan white board dan kedua tangannya meraih ujung-ujung gorden, menutupnya dengan marah.

‘Lho, lho Bi! Abi?!’ teriak Kevin dari jendela seberang. Namun Abi tidak peduli dan membiarkan gordennya tetap menutup.

Kevin menghela napas, sialan. Setelah menunggu beberapa saat dan Abi sepertinya tidak akan membuka gorden kembali dalam waktu dekat, Kevin akhirnya kembali ke dalam, menjatuhkan diri ke kasur. Cewek emang susah dimengerti! Kayaknya aku salah ngomong ke aku sendiri deh, lah kenapa dia yang marah? Kalo emang dia suka ya udah sana pergi. Tapi emang aku ga suka sih dia pergi nonton sama Ray. Kalo mau nonton sama aku juga bisa kan?

Kevin menghela napas dan meraih white board-nya

Jangan pergi

Kemudian meletakkannya di jendela sedang ia sendiri kembali ke kasur, kembali memikirkan percakapan mereka barusan, juga pesan yang ia tulis di white board. Kok aku kayak ABG yang labil ya? Tadi bilang silakan pergi tapi sekarang bilang jangan pergi. Apa hakku melarang Abi pergi? Argh….

Kevin bangkit lagi dan menurunkan white board-nya. Gorden kamar Abi masih tertutup hanya sedikit menggembung ketika tertiup angin. Semoga Abi tidak membaca tulisan tadi! Tangannya menjulur meraih ponsel di bawah bantal dan mengirim pesan pada Abi sebelum ia berubah pikiran walau ia tahu akan menyesalinya nanti, namun untuk saat ini, ia merasa inilah tindakannya yang paling benar untuk dilakukan.

Pergi lah nonton, ambil kesempatan selagi bisa.

Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 5.3 “Sisi Lain.”

Bisa juga di baca di >> Sisi lain

Theo berdiri mematung menatap tidak percaya sekaligus kagum pada pemandangan di depannya. Di halaman belakang panti Moira sedang bermain naga dan induk ayam bersama anak-anak penghuni panti. Sebenarnya sejak tiba di tempat ini Moira telah mengejutkan Theo dalam banyak hal. Siapa yang menyangka jika anak-anak di sini begitu akrab dengan gadis itu? Tidak hanya kedekatannya dengan anak-anak yang membuat Theo terkejut, namun juga kelihaiannya dalam mengurus bayi, seolah ia adalah ibu dari bayi-bayi tersebut.

‘Moira, dia gadis yang luar biasa kan?’

Theo menoleh ketika mendengar ucapan Kepala panti.

‘Apa dia sering kemari?’ tanya Theo.

Kepala panti mengangguk. ‘Bisa dibilang Moira besar di sini.’ Theo mengerutkan kening, dengan pertanyaan tergambar di wajahnya. ‘Anda melihat rumah besar yang puncak gentingnya terlihat dari sini?’ Kepala panti menunjuk di kejauhan. Theo mengangguk. ‘Itu dulu rumah Moira. Ibunya meninggal saat ia berusia sepuluh tahun dan ayahnya kembali ke Inggris tidak lama setelah pemakaman ibunya dan tidak pernah kembali hingga sekarang. Karena Itu Moira lebih banyak menghabiskan waktunya di sini.’

‘Maksud Anda, Moira tinggal sendiri?’ tanya Theo memastikan.

‘Begitulah, Moira hanya tinggal bersama Nanny dan penjaga rumah, tanpa orang tua. Dua tahun yang lalu rumah itu di jual dan Moira harus keluar dari sana setelah itu saya tidak pernah mendengar apapun lagi mengenai kehidupan lamanya.’

‘Tragis sekali hidupnya,’ komentar Theo.

Kepala panti mengangguk. ‘Dia gadis  yang malang tapi dia tidak menyerah begitu saja, dia bahkan bisa masuk universitas favorit.’

‘Apa dia tidak ada keluarga?’

‘Setahu saya Ibunya punya seorang kakak laki-laki, tapi Moira tidak pernah menceritakan keluarganya. Selama bertahun-tahun gadis itu tinggal sendirian.’

Theo berharap Kepala panti menceritakan lebih banyak mengenai gadis yang sebelumnya hanya ia tahu sebagai kekasih muda sang Ayah, jika saja beliau tidak dipanggil masuk oleh stafnya.

‘Maaf Mr. Xu, saya ke dalam dulu.’ Pamit Kepala Panti.

‘Silakan,’ Theo mengangguk.

Sepeninggal Kepala Panti, Theo masih terpaku di tempatnya semula dengan kedua tangan berada jauh di dalam kedua saku celananya. Moira, gadis itu benar-benar seekor burung yang menarik. Lamunan Theo terputus ketika seorang anak perempua yang berlari-lari kecil ke arahnya.

‘Gege, maukah bermain bersama kami?’ gadis cilik itu bertanya dengan penuh harap.

Theo berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan anak perempuan tersebut.

‘Namamu siapa?’ tanya Theo.

‘A You, diambil dari huruf pertama kata youmei yang berarti cantik,’

Theo tersenyum dan mengacak-acak rambut A You. ‘Kau benar-benar seperti namamu, cantik.’

‘Terima kasih,’ A you membungkuk sekilas kemudian bertanya kembali. ‘Jadi maukah Gege bermain bersama kami?’

‘Bermain bersama mereka?’ tanya Theo seraya menunjuk Moira yang dikelilingi anak-anak, rupanya mereka sedang beristirahat, atau mungkin mereka berhenti sejenak hanya untuk menawarinya bergabung? A You mengangguk.

Theo bangkit dan mengulurkan tangannya yang disambut dengan antusias. Keduanya pun berjalan bergandengan tangan ke arah Moira dan teman-teman A You yang lain.

‘Jadi bagaimana cara mainnya?’ tanya Theo begitu mereka berada bersama mereka. Ia melepas jas dan menggantungnya di dahan sakura, melepas dasi dan menggulung kedua lengan kemejanya hingga ke siku.

‘Kita suit, yang kalah menjadi naga, pemenang menjadi induk ayam. Tugas naga hanya menangkap dan melindungi anak ayam tangkapannya.’ Jelas Moira.

‘Okay, dimulai sekarang? Aku hebat lho kalau suit,’ kata Theo.

Moira hanya menjulurkan lidah dan mengulurkan tangan, bersiap untuk suit.

‘Gunting, batu, kertas!’ seru Moira dan Theo bersamaan.

‘Gunting versus kertas, saya menang Tuan yang hebat kalau suit,’ ejek Moira lalu ia berseru pada anak-anak di sekelilingnya. ‘Baiklah, kalian semua jangan sampai tertangkap Gege ya, sini berlindung di punggung Jiejie.’

Belasan anak berteriak ribut sambil mencari tempat masing-masing di belakang Moira, saling memegang pinggang teman yang berada di depannya.

‘Siap?’ tanya Theo sambil berkacak pinggang, menanti si induk ayam dan anak-anaknya siap untuk dimangsa. ‘Dalam hitungan ketiga dimulai ya. Satu, dua, tiga, mulai!’

Sore itu, halaman belakang panti dipenuhi canda tawa anak-anak dan pemandangan langka dari seorang Theo Xu yang melepas semua topeng yang biasa ia pakai sepanjang hari dan tertawa lepas bersama anak-anak.

‘Kena!’ seru Theo ketika berhasil menangkap salah seorang anak yang terlepas dari teman-temannya. Permainan berlanjut dengan Theo berusaha menangkap anak-anak yang bergandeng-gandeng di belakang Moira, hingga terdengar panggilan dari staf panti.

‘Sudah sore, waktunya mandi. Gege dan Jiejie juga harus istirahat,’ ujar beliau yang disambut protes anak-anak. Mereka masih belum ingin berhenti bermain .

‘Sebentar lagi lah Ibu,’ rengek seorang anak.

‘Kami baru bermain sebentar,’ protes anak yang lain.

‘Sudah sore, makan malam akan segera siap, jadi kalian harus segera mandi,’ kata Ibu staf panti.

‘Tapi.’

‘Anak-anak,’ panggil Theo, serentak  mereka menoleh dan untuk sesaat berhenti protes. ‘Sekarang kalian mandi dulu, seperti kata Ibu, hari sudah sore. Lain kali kita main lagi, bagaimana?’ Kebanyakan dari mereka tidak berani protes namun wajah cemberut mereka mengungkapkan kalau mereka tidak setuju. ‘Akhir minggu ini, kalian semua libur kan? Kita main dari pagi sampai sore, bagaimana?’ tawar Theo.

‘Akhir minggu?’ tanya salah seorang yang paling besar diantara mereka. Theo mengangguk. ‘Baiklah, janji akhir minggu ini ya?’ sekali lagi Theo mengangguk dan anak tersebut mengajak teman-temannya yang lain meninggalkan halaman belakang.

‘Maaf telah merepotkan Anda Mr. Xu,’ ucap Ibu pengurus panti seraya membungkuk sekilas.

‘Tidak sama sekali Bu, saya justru berterima kasih, telah diijinkan bermain dengan mereka.’

‘Senang mendengarnya Mr. Xu. Moira, ajak Mr. Xu beristirahat di dalam,’ perintah Ibu pengurus panti sebelum beliau berpamitan masuk sedangkan Moira hanya mengangguk. ‘Saya permisi ke dalam dulu.’

‘Kau ceroboh sekali,’ komentar Moira begitu mereka tinggal berdua di halaman belakang.

‘Maksudnya?’ tanya Theo seraya duduk di tanah berumput, diikuti Moira yang duduk di sampingnya.

‘A Chien adalah anak yang tepat janji.’

‘Maksudnya?’ tanya Theor dengan kening berkerut.

‘Kau berjanji akan kemari akhir minggu ini, dia akan memegang kata-katamu dan jika kau mengingkarinya, dia tidak akan memaafkanmu selamanya.’

‘Dan aku tidak berencana untuk mengingkari janjiku.’ Kata Theo. Moira menelengkan kepala, setengah tidak percaya jika Theo benar-benar serius dengan janjinya. ‘Kenapa?’ tanya Theo.

‘Kau tidak serius kan?’

‘Sangat serius, kau pikir hanya karena dia anak-anak jadi aku bisa seenaknya?’

Moira mengangkat bahu. ‘Setahuku kau sibuk.’

‘Aku bisa meluangkan waktu untuk mereka, kupikir-pikir, asyik juga. Aku bisa refreshing.’ Kata Theo seraya bangkit dan meraih jasnya lalu mengulurkan tangan. ‘Ayolah, aku masih banyak pekerjaan.’

Moira tertawa ketika menyambut uluran tangan Theo. ‘Kupikir kau baru saja mengatakan kata-kata refreshing, lalu sekarang mengatakan masih banyak pekerjaan.’

‘Kurasa kau perlu belajar mencerna kata-kata dengan benar.’  Kata Theo sambil berlalu.

‘Hei, ini sudah jam pulang kantor, apalagi yang perlu dikerjakan.’ Teriak Moira, gadis itu mengejar Theo dengan langkah-langkah lebar.

‘Jam kantor hanya untuk pegawai,’

‘Dan kau?’

‘Aku pemilik. Aku tidak punya jam kantor, jam kerjaku 24 jam.’

‘Serius?’ tanya Moira tidak percaya.

Theo berhenti dan berbalik. ‘Berhentilah bertanya, jangan membuat suasana canggung, oke?’

‘Oh, okay. Maaf.’ Moira mengangguk canggung. Walau ia tidak sepenuhnya mengerti maksud Theo namun ia bisa menduga jika itu berhubungan dengan Ayahnya.

Theo dan Moira meninggalkan pusat pelayanan anak terlantar setelah berpamitan pada pengurus panti dan beberapa anak yang kebetulan masih berada di sana. Ironisnya, walau Theo melarang Moira membicarakan jam kerjanya untuk menghindari suasana canggung, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Keduanya duduk dalam diam dengan Theo fokus menyetir sedangkan Moira hanya memandang luar jendela. Tanpa disadari pandangan Moira terpaku pada pagar tembok di sisi kanan jalan yang tengah mereka lalui, pagar itu begitu panjangnya hingga Theo nyaris berpikir jika pagar itu tidak berujung. Theo berjengit begitu ia tersadar akan sesuatu.

‘Kau ingin berhenti?’ tanya Theo tiba-tiba.

‘Huh?’

‘Kau ingin berhenti di sini?’ ulang Theo.

Moira menggeleng dan mengalihkan perhatiannya pada jalan di depannya. ‘Kenapa harus berhenti?’ tanyanya.

Theo mengangkat bahu.

‘Ada beberapa hal yang sebaiknya dibiarkan berlalu menjadi masa lalu,’

 

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Kayaknyadiasukasamaaku.”

‘Jadi, bisa diceritakan kenapa kau mengajakku makan bubur? Bukannya makan bubur itu kayak orang sakit?’ tanya Kevin.

Abi mendongak dan sedikit melongokkan kepalanya, melihat mangkok bubur Kevin yang sudah tinggal separuh sedangkan miliknya nyaris masih utuh. Apa tenggorokannya anak itu terbuat dari besi tahan panas? Ia mengerucutkan bibir sebelum menjawab pertanyaan Kevin—dengan ragu-ragu.

‘Ray…. Diakayaknyasukasamaaku.’ Jawab Abi dengan cepat.

 

Baca selengkapnya Kayaknyadiasukasamaaku

Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy “5.2 Flowers Bloom.”

‘Maaf membuat Anda menunggu.’

Ji berkata menggunakan bahasa isyarat. El mengangguk mengerti.

‘Tidak apa-apa, tidak terburu-buru kok,’ Ucap El. Ucapan El membuat Ji dan pegawainya terpana, siapa yang menyangka El mengerti bahasa isyarat?

‘Jangan terkejut, saya mengerti kok.’

Kali ini El menggunakan bahasa isyarat untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar mengerti ucapan Ji.

‘Saya pernah bekerja sebagai guru TK untuk anak-anak disabilitas,’ jelas El yang disambut anggukan kagum Ji dan pegawainya.

Baca selengkapnya 5.2 Flowers Bloom

Posted in bahasa, Cerita Pendek, oneshoot, short story

Cerpen; Morning Sun

Morning Sun,’ sapa Albert seraya menghampiri Sunday yang membuka pintu kafe.

Morning Al,’ Sunday menjawab sapaan Albert sambari menengok sekeliling. Kafe masih sepi untuk ukuran hari Minggu. Sedikit tidak biasa dan orang yang dicarinya tidak ada—atau belum datang.

‘Pagi-pagi udah ke sini, mau kencan sama Pak Boss?’ tanya Albert setengah menggoda. Sunday hanya meringis sebagai jawaban. ‘Beliau belum dateng tuh?’

Sunday melihat jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya, hadiah ulang tahun dari sang kekasih beberapa bulan yang lalu.

‘Kebiasaan terlambat. Menyebalkan,’ gumam Sunday.

‘Mau ditunggu di dalam?’ tanya Albert dan disambut anggukan Sunday. ‘Pesen seperti biasa?’

‘Boleh, sama 1 croissant ya,’

‘Sip.’

Baca selengkapnya Morning Sun

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, short story, When You

Cerpen; When You “Restoran”

‘Sepi ya,’ kata Kevin sambil melihat sekeliling. Selain meja mereka, hanya ada dua meja lain yang terisi, sepasang kakek nenek di satu meja dan tiga orang cewek di meja yang lain.

‘Padahal tadi Tante Lina bilang “aduuuh untung kamu cepet pesen tempat, udah di pesen grup lho”.’ Abi menirukan suara Tante Lina, si pemilik restoran.

Kevin tertawa. ‘Mungkin mereka belum datang?’

Restoran ini memang cukup terkenal, selain karena harganya yang cukup terjangkau dan pilihan menu filling yang beragam, sup di sini memang nomor satu! Resep keluarga kata Tante Lina ketika Abi bertanya, rahasia sup hotpot-nya yang enak. Sayangnya lagi, restoran ini termasuk kecil jika dibandingkan restoran-restoran saingannya. Pernah Abi mengusulkan untuk merenovasi restoran dan menambah ruangan, namun Tante Lina enggan melakukannya dengan alasan, semakin besar restoran beliau makin susah untuk mengontrol kualitas menu yang disajikan. Ada benarnya juga sih.

Baca selengkapnya Restoran

Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy “5.1 Officially Courting You”

Bi mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, pemandangan di sini indah. Kedai-kedai berjajar di seberang jalan kecil berpaving, sedangkan bangku-bangku kayu diletakkan di sepanjang bibir danau. Membuat pengunjung mendapatkan keuntungan ganda, lidah dimanjakan lezatnya makanan yang tiwarkan penduduk desa sedangkan mata disuguhi permainya danau kecil yang sepertinya menjadi sumber penghidupan warga sekitar.

‘Bagus kan?’ pertanyaan Al menyadarkan Bi dari pikirannya.

‘Ah ya, bagus. Aku nggak menyangka ada tempat sebagus ini. semacam resort ya?’

Al mengangguk. ‘Desa wisata baru sih ini,’

‘Keluargamu yang membangun?’ tanya Bi.

Al tertawa, ‘keluargaku nggak sekuat itu untuk bisa membangun sebuah desa. Kami hanya membantu mengembangkan. Semua keuntungan untuk masing-masing warga, bukan untuk kami.’

Baca selengkapnya 5.1 Officially Courting You

Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You “Jangan Pergi”

Jangan pergi

Tulisan cakar ayam dengan spidol hitam itu masih tetap seperti enam bulan yang lalu ketika Kevin menulisnya sebagai jawaban untuk Abi yang bertanya apa ia boleh pergi nonton bersama Ray—cowok gebetan Abi. Hanya beberapa bagian yang sudah terhapus oleh waktu, sisanya, masih jelas terbaca.

Semua bermula dari seorang mahasiswa transfer dari  Vancouver bernama Ray. Di mata Kevin cowok itu biasa saja—apalagi di awal-awal ia pindah—di kampus pun dia tidak terlalu dibicarakan, intinya bukan tipe seorang idola lah, namun entah kenapa Abi tergila-gila padanya. Tidak hanya sekedar mengidolakan, Abi pun mulai mengikuti setiap kegiatan yang Ray ikuti salah satu dan yang paling utama adalah basket.

Ray baru terlihat menonjol ketika ia bergabung dengan tim basket kampus, tidak hanya dengan kemampuan memainkan bola yang di atas kemampuan pemain lain. Ia juga lebih tinggi daripada rata-rata orang bule—apalagi orang Indonesia?—dan wajah perpaduan ras Kaukasoid dan Cina membuatnya tampak berbeda dengan mahasiswa kebanyakan di sini. Kevin mengakui hal itu—dan entah kenapa membuatnya semakin kesal.

Baca selengkapnya Jangan Pergi

Posted in bahasa, Catch Me When I Fall, Cerita Pendek, oneshoot

Songfiction; Michelle Branch – Goodbye to You

Susan meringis menahan sakit ketika jarum menembus kulitnya, sesekali Matthew, si tukang tato mengusap darah yang merembes keluar.

‘Kau nggak takut Ibumu?’ tanya Matthew ditengah-tengah kesibukannya merajah sisi luar lengan kanan atas Susan.

‘Dia nggak akan bisa berbuat apapun kalau aku pulang dengan tato di tangan dan aku juga nggak peduli. Aku bukan anak kecil lagi.’

‘Tentu,’ Matthew tertawa, seraya mengusap darah di lengan Susan. ‘Paling beliau akan kemari dan mengancam akan menutup salonku.’

‘Dan dia akan tahu kalau usahanya sia-sia,’ tambah Susan sambil tertawa.

‘Kau benar-benar akan pergi?’ tanya Matthew lagi.

Susan mengangguk. ‘Ini kesempatan sekali seumur hidup Matt, do or die,’

Baca selengkapnya Goodbye to You

Video oleh Warner Bros. Records