Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 5.4 Status

Bisa juga di baca di Storial

‘El kemana?’ tanya Bi begitu masuk dapur kafe.

Bloody hell! Bi!’ seru Paul terkejut, ia nyaris menjatuhkan ponselnya. Bi memicingkan mata melihat reaksi Paul yang menurutnya sedikit berlebihan. ‘Bisa kan kau bersuara kalau masuk?’

‘Kau tidak mendengarku membuka pintu?’ tanya Bi heran padahal pintu dapur suka bereketek-keretek kalau dibuka atau ditutup.

Paul menggeleng dan menyimpan ponsel di saku celemeknya, menghela napas dalam sebelum kembali  menimbang tepung.

‘Aku tanya El kemana? Di atas nggak ada,’ Bi mengulang pertanyaan yang belum terjawab seraya membuka lemari kayu tempat celemek cadangan dan berbagai macam serbet disimpan.

‘Bos pulang sejak sore tadi, memang belum kembali?’

‘Pulang?’ ulang Bi, Paul hanya bergumam malas sebagai jawaban. Bi telah memakai celemek dan sedang mengelung rambutnya ke dalam topi. ‘Dan ada apa dengan mukamu itu?’ tanya Bi lagi.

‘Aku waktunya pulang,’ jawab Paul, masih dengan kesibukan menimbang tepung dan memasukkannya ke beberapa baskom ukur.

‘Lalu?’

‘Harus stay-back, Smith diare, dia nggak masuk.’

‘Oh ceritanya kau keberatan gitu? Smith pasti juga nggak sengaja kan? Masa orang sakit direncanakan?’ Ujar Bi sambil melihat-lihat baskom ukur di meja panjang. ‘Banyak amat bikinnya,’

‘Aku tahu sih, aku juga nggak keberatan sebenernya cuman…. aku ada janji kencan…,’

Spontan Bi tergelak mendengar alasan yang sebenarnya di balik wajah cemberut Paul.

‘Nggak usah ngetawain deh, mentang-mentang yang tadi habis kencan seharian,’ sungut Paul.

‘Haha…, ya sudah sana pulang, ini biar aku yang kerjain.’ Kata Bi.

Paul sontak mengangkat muka tidak percaya. ‘Yang bener Bi?’

‘Iya sana pergi sebelum aku berubah pikiran lho,’

‘Awww…,’ pekik Paul kegirangan, ia mengitari meja tempat ia bekerja dan memeluk Bi erat-erat. ‘Bianca emang the best!’

‘Ew, apaan nih lepas,’ Bi tertawa.

Super thanks Bi!’

Paul melepaskan pelukannya dan dengan segera melepas celemek dan topi, melemparnya ke keranjang kain kotor. Namun sebelum ia keluar dapur, Paul berbalik dan mencium pipi Bi.

‘Ya!’ pekik Bi terkejut.

Anyway, ada beberapa yang belum di-icing, bye Bi,’ teriaknya sambil berlari keluar.

‘Hah?!’

Tidak mempedulikan Bi yang makin shock dengan tugas tambahan menghias kue, Paul segera melesat pergi, meninggalkan dapur sebelum Bi mengurungkan niatnya menggantikan tugas Smith malam ini. Sorry Bi.

Bi bergegas membuka lemari stainless tempat penyimpanan kue dan donat yang belum di-icing. Benar saja, lemari penuh dengan kue dan donat yang belum jadi. Damn you Paul.

You owe me big time Po,

Paul mengirim pesan balasan hanya dengan stiker pria dan wanita saling berpelukan.

‘Dasar,’ Bi tertawa kecil membaca pesan balasan dari Paul. Baiklah, mari mulai bekerja, semangat!

Menyalakan musik dari ponselnya, Bi mulai mengerjakan satu persatu tugasnya, beruntung Paul telah selesai menyiapkan semua adonan jadi yang perlu ia lakukan hanya meletakkan baskom berisi bahan-bahan ke dalam mixer satu persatu dan mencetaknya. Muffin, croissant, pie….

‘Jangan berdiri saja, kemari bantu aku,’ kata Bi tanpa mengalihkan perhatiannya dari menggulung adonan croissant dan meletakkannya di loyang ketika merasakan kehadiran seseorang di dapur.

El yang berdiri di ambang pintu tertawa kecil dan menghampiri Bi yang sibuk dengan adonan-adonannya.

‘Anak-anak kemana?’ tanya El seraya melepas jaket dan menggulung kemejanya hingga ke siku.

‘Smith diare dan Paul ada janji kencan, jadi ku suruh pulang.’ jelas Bi.

‘Dan kau di sini berkorban demi mereka?’ tanya El, ia meraih satu adonan croissant yang telah dipotong, diisi keju lalu digulung.

‘Nggak juga, ada kau yang bantu kan?’ jawab Bi cuek.

‘Hanya aku bos yang mengerjakan pekerjaan seperti ini dan membiarkan anak buahku berkencan, miris,’

‘Makanya segera cari pacar,’ timpal Bi.

‘Sombong, mentang-mentang barusan kencan. Ngomong-ngomong gimana kencannya?’ tanya El.

‘Nggak gimana-gimana, memang mau gimana?’ Bi bertanya balik.

‘Ya, Al itu orangnya seperti apa kalau di luar kantor misalnya?’

‘Entahlah, aku kan nggak tahu bagaimana kalau dia di kantor dan kami hanya makan.’

‘Seharian cuma makan?’ tanya El tidak percaya.

‘Keluar kota, kau tahulah Tuan Muda,’ Bi tertawa. ‘Kami mengunjungi mantan Nanny-nya yang kebetulan punya stall makanan.’

El tidak menyahut, dia hanya menggulung adonan dalam diam, Bi sendiri sibuk menggiling adonan untuk dipotong-potong lalu menyimpannya di kulkas.

‘Menyenangkan melihatmu seperti ini,’ kata El. Bi yang sedang menyimpan adonan di kulkas menoleh dengan kedua alis bertaut di tengah-tengah. Maksudnya? ‘Kuharap Al bisa membuka sesuatu yang kau simpan selama bertahun-tahun Bi,’

‘Kau ini bicara apa?’ tanya Bi bingung.

El meninggalkan pekerjaannya dan berbalik, menyandarkan bokongnya di tepi meja, menatap Bi tepat di kedua matanya.

‘Akuilah, kau menyembunyikan sesuatu, kau takut dengan keberadaan sesuatu tersebut, makanya kau terus menerus menyangkalnya bahkan terhadap dirimu sendiri. Berapa puluh tahun telah berlalu Bi? Sudah saatnya kau membebaskan dirimu.’

Bi menutup pintu kulkas dengan pelan, ia benci pembicaraan serius seperti ini, di atas semuanya ia benci dengan kenyataan ia selalu telanjang dihadapan El.

‘Haruskah?’

‘Buat hidupmu lebih mudah Bi,’

‘Entahlah,’ Bi mengangkat bahu. ‘Theo bicara dengan Al mengenai Papa yang memintaku bekerja.’

‘Lalu?’

Bi menggeleng, ia menyiapkan oven dan memasukkan loyang-loyang berisi croissant. ‘Dia menyiapkan projek untukku kurasa?’

‘Aku juga serius akan membuka bakery, terserah kau bersamaku atau Al, aku nggak masalah.’

‘Astaga, kau juga El?’ tanya Bi dengan alis terangkat. Ada apa dengan orang-orang ini?

‘Pernahkah kau berpikir betapa sulitnya orang tuamu menjawab pertanyaan yang paling ringan ketika mereka bertemu siapa saja di luar sana?’

Kening Bi berkerut, maksudnya?

‘Anggap kita berpikir orang tuamu berpikiran sempit. Apa pernah kau berpikir bagaimana mereka menjawab ketika ada kolega yang bertanya; ‘Putrimu bekerja di mana?’ mereka mau jawab apa? Mau jawab tidak bekerja, begitu? Di mana harga diri mereka? Kau pewaris satu-satunya, semua orang tahu itu. Apa direksi bisa percaya denganmu jika kau sama sekali tidak punya sesuatu yang bisa diandalkan? Kau tidak pernah sekalipun menginjakkan kakimu di perusahaan. Bahkan namamu pun nyaris tidak pernah terdengar sebelum pengumuman pertunanganmu dengan Al. Hanya Theo, dan mereka tahu Theo bukanlah siapa-siapa. Pernah kau memikirkan semua itu?’

‘Wow,’ Bi menggeleng tidak percaya mendengar semuanya. Sedikitpun ia tidak pernah berpikir ke sana.

‘Karenanya kupikir, pernikahan adalah jalan yang paling tepat dan cepat, paling tidak Ayahmu bisa mendapat garansi kepercayaan dan direksi tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi dan posisimu aman. Kalau dipikir-pikir lagi semua ini untukmu juga. Sedang Ibumu, beliau tidak perlu bingung menjawab pertanyaan usil, tinggal bilang, putriku menantu Keluarga Li, urusan selesai.’

‘Darimana kau bisa berpikir sejauh ini?’

‘Pengalaman.’ Jawab El pendek.

Bi mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebelum menarik kursi dan menjatuhkan dirinya di sana, dengan bertopang dagu ia bertanya; ‘Jadi menurutmu aku harus menerima tawaran Al?’

El tersenyum dan menyentil dahi Bi. ‘Jangan lupa, aku juga memberimu tawaran idiot.’

‘Kau memang pandai memperkeruh suasana El,’ gerutu Bi sambil mengusap-usap dahinya.

‘Nggak berpikir mengenai Al?’

‘Ada apa dengannya?’

Perhaps he has feeling for you? Maksudku, dia sepertinya baik-baik saja dan menerima perjodohan ini dengan hati terbuka.’

Bi spontan tertawa, teringat olehnya ucapan Al ketika mereka pertama kali bertemu; Aku tidak secepat itu dalam menilai sesuatu. Aku akan mempelajari sebelum memutuskan. Jadi kemungkinan Al punya perasaan khusus terhadapnya adalah…. Absurd.

I’m officially courting you.

‘Oh,’ Bi rasanya tertampar begitu mengingat ucapan Al. Benarkah?

Flick!

El menjetikkan jarinya tepat di depan mata Bi, membuatnya mengerjap karena terkejut. Tidak, Al tidak serius, ini semata-mata untuk bisnis.

‘Apaan sih?!’

‘Aku yang harusnya tanya, ada sesuatu yang terjadi dan kau belum memberitahuku,’ selidik El.

‘Dia hanya melakukan tugasnya.’ Kata Bi. Benar begitu, tidak ada maksud yang lain.

‘Maksudnya?’

‘Kau kan tahu ini semua semata-mata untuk bisnis, bicara soal itu, aku baru ingat aku belum mencari info tentang siapa memanfaatkan siapa,’

‘Kau tahu Bi?’ El tersenyum jahil. ‘Aku bisa mencium kebohongan walau itu bermil-mil jauhnya.

 

Advertisements

Author:

Author @StorialCo and AsianFanfiction. Founder Mr. Galaxy Fanfan House and CNBOICE, co Admin @Indonesianboice. Find my books The Stars | In Between | Through the Lens | Burning Melody at nulisbuku.com Find me @lanhudiee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s