Posted in bahasa, book, Cerita Pendek, fiction, When You

Cerpen; When You, “Dilema.”

Bisa juga di baca di Storial

Huh?’ Kevin menatap Abi bingung. Ngomong apa dia?

‘Jadi….’ Abi mengaduk-aduk buburnya dan melanjutkan dengan suara kecil. ‘Kemarin Ray mengajakku nonton,’

‘Oh…. Lalu?’

Abi tidak menjawab, hanya mengeleng pelan.

‘Emang, kapan Ray ngajak nonton?’ tanya Kevin.

‘Besok malem minggu,’ jawab Abi kalem.

‘Nah kenapa nggak mau?’ tanya Kevin lagi.

‘Kapan aku bilang nggak mau?’ Abi bertanya balik.

Kevin menatap Abi dengan muka datar. Belakangan ini Abi memang aneh.

Lha tadi geleng kepala buat apa?’

‘Nggak tau….’ Erang Abi sambil menelungkup di meja—mangkok buburnya sudah disingkirkan ke samping.

‘Wah jadi ini serius ya,’ tanya Kevin, ia pun meninggalkan buburnya sejenak dan bersandar ke sandaran kursi, memperhatikan Abi dengan senyum dikulum. Abi mendongak, maksudnya? ‘Ini bukan sekedar idol-crush aja. Waah Abi udah mulai naksir cowok ya….’

Abi menghela napas kesal. ‘Udah deh, nggak usah godain,’

Kevin tertawa. ‘Oke, oke. Jadi gimana nih? Kau sendiri, suka nggak sama Ray?’

‘Yaaa…. Gimana, dia keren sih kalo main basket….’

‘Ya elah Bi, mau pacarin orangnya apa gayanya main basket?’

Lagi-lagi Abi menggeleng. ‘Nggak tau…. Kalau menurutmu gimana?’

‘Aku?’ Abi menggangguk dengan kepala masih menempel di meja. ‘Sori ya, gini-gini aku masih suka cewek.’

Abi spontan mengangkat kepalanya. ‘Maksudku kalau kau jadi aku idiot!’

‘Kalo itu nggak tau juga,’ Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ‘Aku lebih cakep dari Ray sih,’

Abi mendengus. ‘Maksudnya aku kudu pacaran sama situ?’

‘Ya, kalo situ mau sih,’ Kevin mengedipkan matanya sebelah dan Abi pura-pura muntah.

‘Nggak asik ah. Rugi nih dua mangkok bubur. Kepalaku malah tambah pusing!’ Abi bangkit dan meninggalkan kursinya.

‘Hei, hei…. Kok kabur? Buburmu gimana nih?’

‘Makan aja!’ teriak Abi, cewek itu menghampiri Bang Hadi yang sibuk mencuci mangkok dan mengulurkan selembar dua puluh ribuan. ‘Bayar Bang,’

‘Kok udah pulang? Kan Kevin belum selesai tuh?’ tanya Bang Hadi.

‘Biarin! Dia nyebelin, untung aku masih tepat janji buat bayarin makannya,’ kata Abi sambil merengut.

Healah begitu saja lho kok ngambek, biasanya Kevin juga nyebelin kan?’

Abi mencebik dan berpamitan. ‘Udah ah, aku pulang ya Bang,’

Bang Hadi melambaikan tangan. ‘Iya, hati-hati.’

Sementara Kevin hanya memandangi Abi yang meninggalkan warung, dalam hati bertanya-tanya seberapa serius perasaan suka Abi pada Ray dan kenapa ia semakin tidak suka dengan ide Ray yang juga menyukai Abi?

***

Selama dua hari Abi mendiamkan Kevin, rupanya gadis itu benar-benar kesal karena Kevin malah menggodanya dan tidak memberikan solusi atas masalahnya. Telepon Kevin tidak pernah dijawab, begitu juga dengan pesan-pesannya, hanya dibaca tanpa dibalas. Tentu hal ini membuat Kevin kelimpungan, ia tidak terbiasa tanpa kehadiran Abi, hidupnya terasa sepi, tidak ada yang diajak bertengkar, tidak ada yang merecokinya saat melukis.

‘Hari Jum’at,’ gumam Kevin. Berarti Abi akan kencan besok, jadi ga ya? Sebaiknya sih nggak jadi—eh? Pergulatan batinnya mengejutkan Kevin sendiri, kenapa ia tidak suka dengan ide Abi kencan dengan Ray besok? Tapi…. Alasan ia tidak suka Ray karena cowok itu punya potensi mencuri teman baiknya kan? Bukan karena alasan yang lain, ia menyukai Abi misalnya?

Kevin tersedak ludahnya sendiri ketika menyadari hal itu. Menyukai Abi? Masa? Mereka berdua telah bersama-sama sejak bayi, bahkan lahir pun di rumah sakit yang sama, rumah bersebelahan, sekolah dari playgroup sampai kuliah bersama-sama. Baru terpisah kelas sejak kelas dua SMA hingga sekarang—walaupun untuk beberapa mata kuliah mereka masih sekelas. Sebagai catatan tambahan mereka belum pernah benar-benar pacaran, untuk Abi, ibu Abi tidak mengijinkan putrinya berpacaran sebelum lulus SMA. Dan jika Ray ini benar-benar terjadi, maka cowok itu akan menjadi pacar pertama Abi.

Kevin sendiri?

Cowok itu mengerang di kursinya, sekarang ia baru menyadari kalau dirinya juga belum pernah punya pacar. Teman cewek sih banyak tapi yang menyita waktunya sebanyak Abi, belum ada. Hanya Abi.

Kevin meninggalkan meja belajar dan berjalan ke jendela, niatnya untuk belajar menguap seketika. Melalui jendelanya ia bisa melihat kamar Abi yang juga masih terang—rumah mereka sama-sama di pojok blok masing-masing  hanya terpisahkan jalan berpaving. Abi ngapain ya? Kevin meraih white board kecil yang diletakkan menyandar di tembok di bawah jendela, ia menulis;

Lagi ngapain?

Kemudian memeganginya di kusen jendela, menuggu dan berdo’a Abi muncul di jendela kamarnya seperti biasa—sejak kemarin pun Abi tidak terlihat bermain-main di jendela seperti biasanya. Agaknya Tuhan menjawab do’a Kevin ketika Abi melakukan sesuatu dengan gordennya, sepertinya ada kait yang tersangkut ke kait lainnya dan pada akhirnya ia menyadari ada Kevin berdiri di jendela kamarnya di sana. Kevin tahu Abi membaca white board-nya kerena air muka gadis itu berubah.

Abi cemberut, Kevin tersenyum, Abi makin cemberut dan Kevin tertawa.

Abi menunduk dan meraih white board miliknya yang juga diletakkan di bawah jendela lalu menulis sesuatu untuk diperlihatkan pada Kevin.

Udah punya nyali bicara denganku?

Satu alis Kevin terangkat naik.

Sori

Kevin menulis dan memperlihatkannya pada Abi.

Abi mencebik.

Kevin menurunkan white board-nya dan menghapus dua tulisan pertama untuk menggantinya dengan tulisan baru.

Jadi nontonnya?

Ga tau -.-

Abi meletakkan dahinya ke tepi white board yang dipegangnya. Putus asa.

Apa kau mau aku ikut?

Tulis Kevin selanjutnya, langsung membuat Abi mendelik. Ikut? Dengan cepat Kevin menghapus tulisan yang lain dan menggantinya dengan yang baru.

Lha kayaknya ragu-ragu terus gitu?

Kau bukan cewek sih?

Tulis Abi. Lalu tanpa pikir panjang Kevin menulis balasan yang langsung di sesalinya.

Lah kalo suka ya pergi aja kok repot?

Ngomong sama sama tembok emang bikin emosi!

Dengan cepat Abi menurunkan white board dan kedua tangannya meraih ujung-ujung gorden, menutupnya dengan marah.

‘Lho, lho Bi! Abi?!’ teriak Kevin dari jendela seberang. Namun Abi tidak peduli dan membiarkan gordennya tetap menutup.

Kevin menghela napas, sialan. Setelah menunggu beberapa saat dan Abi sepertinya tidak akan membuka gorden kembali dalam waktu dekat, Kevin akhirnya kembali ke dalam, menjatuhkan diri ke kasur. Cewek emang susah dimengerti! Kayaknya aku salah ngomong ke aku sendiri deh, lah kenapa dia yang marah? Kalo emang dia suka ya udah sana pergi. Tapi emang aku ga suka sih dia pergi nonton sama Ray. Kalo mau nonton sama aku juga bisa kan?

Kevin menghela napas dan meraih white board-nya

Jangan pergi

Kemudian meletakkannya di jendela sedang ia sendiri kembali ke kasur, kembali memikirkan percakapan mereka barusan, juga pesan yang ia tulis di white board. Kok aku kayak ABG yang labil ya? Tadi bilang silakan pergi tapi sekarang bilang jangan pergi. Apa hakku melarang Abi pergi? Argh….

Kevin bangkit lagi dan menurunkan white board-nya. Gorden kamar Abi masih tertutup hanya sedikit menggembung ketika tertiup angin. Semoga Abi tidak membaca tulisan tadi! Tangannya menjulur meraih ponsel di bawah bantal dan mengirim pesan pada Abi sebelum ia berubah pikiran walau ia tahu akan menyesalinya nanti, namun untuk saat ini, ia merasa inilah tindakannya yang paling benar untuk dilakukan.

Pergi lah nonton, ambil kesempatan selagi bisa.

Advertisements

Author:

Author @StorialCo and AsianFanfiction. Founder Mr. Galaxy Fanfan House and CNBOICE, co Admin @Indonesianboice. Find my books The Stars | In Between | Through the Lens | Burning Melody at nulisbuku.com Find me @lanhudiee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s