Posted in bahasa, book, Daisy, fiction, novel

Novel; Daisy 5.3 “Sisi Lain.”

Bisa juga di baca di >> Sisi lain

Theo berdiri mematung menatap tidak percaya sekaligus kagum pada pemandangan di depannya. Di halaman belakang panti Moira sedang bermain naga dan induk ayam bersama anak-anak penghuni panti. Sebenarnya sejak tiba di tempat ini Moira telah mengejutkan Theo dalam banyak hal. Siapa yang menyangka jika anak-anak di sini begitu akrab dengan gadis itu? Tidak hanya kedekatannya dengan anak-anak yang membuat Theo terkejut, namun juga kelihaiannya dalam mengurus bayi, seolah ia adalah ibu dari bayi-bayi tersebut.

‘Moira, dia gadis yang luar biasa kan?’

Theo menoleh ketika mendengar ucapan Kepala panti.

‘Apa dia sering kemari?’ tanya Theo.

Kepala panti mengangguk. ‘Bisa dibilang Moira besar di sini.’ Theo mengerutkan kening, dengan pertanyaan tergambar di wajahnya. ‘Anda melihat rumah besar yang puncak gentingnya terlihat dari sini?’ Kepala panti menunjuk di kejauhan. Theo mengangguk. ‘Itu dulu rumah Moira. Ibunya meninggal saat ia berusia sepuluh tahun dan ayahnya kembali ke Inggris tidak lama setelah pemakaman ibunya dan tidak pernah kembali hingga sekarang. Karena Itu Moira lebih banyak menghabiskan waktunya di sini.’

‘Maksud Anda, Moira tinggal sendiri?’ tanya Theo memastikan.

‘Begitulah, Moira hanya tinggal bersama Nanny dan penjaga rumah, tanpa orang tua. Dua tahun yang lalu rumah itu di jual dan Moira harus keluar dari sana setelah itu saya tidak pernah mendengar apapun lagi mengenai kehidupan lamanya.’

‘Tragis sekali hidupnya,’ komentar Theo.

Kepala panti mengangguk. ‘Dia gadis  yang malang tapi dia tidak menyerah begitu saja, dia bahkan bisa masuk universitas favorit.’

‘Apa dia tidak ada keluarga?’

‘Setahu saya Ibunya punya seorang kakak laki-laki, tapi Moira tidak pernah menceritakan keluarganya. Selama bertahun-tahun gadis itu tinggal sendirian.’

Theo berharap Kepala panti menceritakan lebih banyak mengenai gadis yang sebelumnya hanya ia tahu sebagai kekasih muda sang Ayah, jika saja beliau tidak dipanggil masuk oleh stafnya.

‘Maaf Mr. Xu, saya ke dalam dulu.’ Pamit Kepala Panti.

‘Silakan,’ Theo mengangguk.

Sepeninggal Kepala Panti, Theo masih terpaku di tempatnya semula dengan kedua tangan berada jauh di dalam kedua saku celananya. Moira, gadis itu benar-benar seekor burung yang menarik. Lamunan Theo terputus ketika seorang anak perempua yang berlari-lari kecil ke arahnya.

‘Gege, maukah bermain bersama kami?’ gadis cilik itu bertanya dengan penuh harap.

Theo berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan anak perempuan tersebut.

‘Namamu siapa?’ tanya Theo.

‘A You, diambil dari huruf pertama kata youmei yang berarti cantik,’

Theo tersenyum dan mengacak-acak rambut A You. ‘Kau benar-benar seperti namamu, cantik.’

‘Terima kasih,’ A you membungkuk sekilas kemudian bertanya kembali. ‘Jadi maukah Gege bermain bersama kami?’

‘Bermain bersama mereka?’ tanya Theo seraya menunjuk Moira yang dikelilingi anak-anak, rupanya mereka sedang beristirahat, atau mungkin mereka berhenti sejenak hanya untuk menawarinya bergabung? A You mengangguk.

Theo bangkit dan mengulurkan tangannya yang disambut dengan antusias. Keduanya pun berjalan bergandengan tangan ke arah Moira dan teman-teman A You yang lain.

‘Jadi bagaimana cara mainnya?’ tanya Theo begitu mereka berada bersama mereka. Ia melepas jas dan menggantungnya di dahan sakura, melepas dasi dan menggulung kedua lengan kemejanya hingga ke siku.

‘Kita suit, yang kalah menjadi naga, pemenang menjadi induk ayam. Tugas naga hanya menangkap dan melindungi anak ayam tangkapannya.’ Jelas Moira.

‘Okay, dimulai sekarang? Aku hebat lho kalau suit,’ kata Theo.

Moira hanya menjulurkan lidah dan mengulurkan tangan, bersiap untuk suit.

‘Gunting, batu, kertas!’ seru Moira dan Theo bersamaan.

‘Gunting versus kertas, saya menang Tuan yang hebat kalau suit,’ ejek Moira lalu ia berseru pada anak-anak di sekelilingnya. ‘Baiklah, kalian semua jangan sampai tertangkap Gege ya, sini berlindung di punggung Jiejie.’

Belasan anak berteriak ribut sambil mencari tempat masing-masing di belakang Moira, saling memegang pinggang teman yang berada di depannya.

‘Siap?’ tanya Theo sambil berkacak pinggang, menanti si induk ayam dan anak-anaknya siap untuk dimangsa. ‘Dalam hitungan ketiga dimulai ya. Satu, dua, tiga, mulai!’

Sore itu, halaman belakang panti dipenuhi canda tawa anak-anak dan pemandangan langka dari seorang Theo Xu yang melepas semua topeng yang biasa ia pakai sepanjang hari dan tertawa lepas bersama anak-anak.

‘Kena!’ seru Theo ketika berhasil menangkap salah seorang anak yang terlepas dari teman-temannya. Permainan berlanjut dengan Theo berusaha menangkap anak-anak yang bergandeng-gandeng di belakang Moira, hingga terdengar panggilan dari staf panti.

‘Sudah sore, waktunya mandi. Gege dan Jiejie juga harus istirahat,’ ujar beliau yang disambut protes anak-anak. Mereka masih belum ingin berhenti bermain .

‘Sebentar lagi lah Ibu,’ rengek seorang anak.

‘Kami baru bermain sebentar,’ protes anak yang lain.

‘Sudah sore, makan malam akan segera siap, jadi kalian harus segera mandi,’ kata Ibu staf panti.

‘Tapi.’

‘Anak-anak,’ panggil Theo, serentak  mereka menoleh dan untuk sesaat berhenti protes. ‘Sekarang kalian mandi dulu, seperti kata Ibu, hari sudah sore. Lain kali kita main lagi, bagaimana?’ Kebanyakan dari mereka tidak berani protes namun wajah cemberut mereka mengungkapkan kalau mereka tidak setuju. ‘Akhir minggu ini, kalian semua libur kan? Kita main dari pagi sampai sore, bagaimana?’ tawar Theo.

‘Akhir minggu?’ tanya salah seorang yang paling besar diantara mereka. Theo mengangguk. ‘Baiklah, janji akhir minggu ini ya?’ sekali lagi Theo mengangguk dan anak tersebut mengajak teman-temannya yang lain meninggalkan halaman belakang.

‘Maaf telah merepotkan Anda Mr. Xu,’ ucap Ibu pengurus panti seraya membungkuk sekilas.

‘Tidak sama sekali Bu, saya justru berterima kasih, telah diijinkan bermain dengan mereka.’

‘Senang mendengarnya Mr. Xu. Moira, ajak Mr. Xu beristirahat di dalam,’ perintah Ibu pengurus panti sebelum beliau berpamitan masuk sedangkan Moira hanya mengangguk. ‘Saya permisi ke dalam dulu.’

‘Kau ceroboh sekali,’ komentar Moira begitu mereka tinggal berdua di halaman belakang.

‘Maksudnya?’ tanya Theo seraya duduk di tanah berumput, diikuti Moira yang duduk di sampingnya.

‘A Chien adalah anak yang tepat janji.’

‘Maksudnya?’ tanya Theor dengan kening berkerut.

‘Kau berjanji akan kemari akhir minggu ini, dia akan memegang kata-katamu dan jika kau mengingkarinya, dia tidak akan memaafkanmu selamanya.’

‘Dan aku tidak berencana untuk mengingkari janjiku.’ Kata Theo. Moira menelengkan kepala, setengah tidak percaya jika Theo benar-benar serius dengan janjinya. ‘Kenapa?’ tanya Theo.

‘Kau tidak serius kan?’

‘Sangat serius, kau pikir hanya karena dia anak-anak jadi aku bisa seenaknya?’

Moira mengangkat bahu. ‘Setahuku kau sibuk.’

‘Aku bisa meluangkan waktu untuk mereka, kupikir-pikir, asyik juga. Aku bisa refreshing.’ Kata Theo seraya bangkit dan meraih jasnya lalu mengulurkan tangan. ‘Ayolah, aku masih banyak pekerjaan.’

Moira tertawa ketika menyambut uluran tangan Theo. ‘Kupikir kau baru saja mengatakan kata-kata refreshing, lalu sekarang mengatakan masih banyak pekerjaan.’

‘Kurasa kau perlu belajar mencerna kata-kata dengan benar.’  Kata Theo sambil berlalu.

‘Hei, ini sudah jam pulang kantor, apalagi yang perlu dikerjakan.’ Teriak Moira, gadis itu mengejar Theo dengan langkah-langkah lebar.

‘Jam kantor hanya untuk pegawai,’

‘Dan kau?’

‘Aku pemilik. Aku tidak punya jam kantor, jam kerjaku 24 jam.’

‘Serius?’ tanya Moira tidak percaya.

Theo berhenti dan berbalik. ‘Berhentilah bertanya, jangan membuat suasana canggung, oke?’

‘Oh, okay. Maaf.’ Moira mengangguk canggung. Walau ia tidak sepenuhnya mengerti maksud Theo namun ia bisa menduga jika itu berhubungan dengan Ayahnya.

Theo dan Moira meninggalkan pusat pelayanan anak terlantar setelah berpamitan pada pengurus panti dan beberapa anak yang kebetulan masih berada di sana. Ironisnya, walau Theo melarang Moira membicarakan jam kerjanya untuk menghindari suasana canggung, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Keduanya duduk dalam diam dengan Theo fokus menyetir sedangkan Moira hanya memandang luar jendela. Tanpa disadari pandangan Moira terpaku pada pagar tembok di sisi kanan jalan yang tengah mereka lalui, pagar itu begitu panjangnya hingga Theo nyaris berpikir jika pagar itu tidak berujung. Theo berjengit begitu ia tersadar akan sesuatu.

‘Kau ingin berhenti?’ tanya Theo tiba-tiba.

‘Huh?’

‘Kau ingin berhenti di sini?’ ulang Theo.

Moira menggeleng dan mengalihkan perhatiannya pada jalan di depannya. ‘Kenapa harus berhenti?’ tanyanya.

Theo mengangkat bahu.

‘Ada beberapa hal yang sebaiknya dibiarkan berlalu menjadi masa lalu,’

 

Advertisements

Author:

Author @StorialCo and AsianFanfiction. Founder Mr. Galaxy Fanfan House and CNBOICE, co Admin @Indonesianboice. Find my books The Stars | In Between | Through the Lens | Burning Melody at nulisbuku.com Find me @lanhudiee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s