Posted in bahasa, Cerita Pendek, fiction, oneshoot, short story

Cerpen; “Lunch”

fa47fc7a562e998f166d39300a43660e

Tok tok tok

‘Halo, masih sibuk?’ tanya Yuan sambil melongok dari pintu yang setengah terbuka.

Ji yang sibuk dengan desainnya mendongak, tersenyum melihat sahabatnya datang berkunjung.

‘Aku selalu sibuk,’ jawab Ji.

‘Yeah, rasanya aku nggak pernah melihatmu bersantai,’ Yuan menjulurkan lidah lalu mengangkat tangan kanannya, ‘makan siang~’

Ji tertawa, kali ini ia meninggalkan peralatan gambarnya dan bangkit menyambut Yuan dan makan siang yang dibawanya.

‘Aku tahu kau akan menolak kalau kubilang kita makan siang di luar,’

You know me so well,’ Ji kembali terkekeh.

‘Kayaknya itu judul lagu?’

Ji mengangkat bahu, melewati Yuan, ia membuka kulkas dan mengambil dua botol air putih sedangkan Yuan mengeluarkan kotak makan siang dan menatanya di meja.

‘Ini untuk musim kapan?’ tanya Yuan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Di satu dinding dipenuhi foto-foto desain, di pojok ruangan ada setumpuk kain contoh, bersebelahan dengan mannequin yang berlimpangan. Pita, renda dan berbagai asesoris yang lain menggunung di sudut  yang lain.

‘Musim semi dan panas tahun depan.’ Jawab Ji pendek, meletakkan dua botol air putih di meja, Ji menarik kursi di seberang Yuan, meneliti menu makan siang yang dibawakan Yuan. ‘Jenius sekali kau, sudah lama aku ingin makan sushi,’ komentar Ji.

Yuan mendengus. ‘Aku juga heran kenapa bisa berteman dengan manusia pelit sepertimu, pengin makan sushi saja nunggu dibelikan teman.’

‘Aku bukannya pelit, kau tahu kan aku sibuk, akan ada launching flagship-store baru juga.’ Ujar Ji membela diri.

‘Alasan,’ cibir Yuan. Ji hanya mengangkat bahu tidak peduli, aneka sushi di depannya ini lebih menggoda daripada beradu argumen dengan Yuan. Dengan segera Ji merobek bungkus sumpit dan memecah alat makan terbuat dari bambu tersebut menjadi dua untuk mulai menikmati makanan idaman gratis.

‘Lima tahun,’ ucap Yuan tiba-tiba.

Ji yang masih fokus dengan aneka sushi di hadapannya sontak mengangkat kepala. Yuan duduk dikursinya sambil bertopang dagu, ia belum menyentuh makan siangnya sama sekali dan hanya memperhatikan Ji memindahkan sushi satu per satu dari kotak ke mulutnya.

‘Ada apa dengan lima tahun?’ tanya Ji seraya meraih botol air putih, membuka tutupnya dan meneguk cairan di dalamnya kemudian meletakkan kembali ke meja.

‘Aku nggak tahu harus senang atau sedih melihatmu seperti ini.’ Lanjut Yuan. ‘Di satu sisi aku melihatmu mengatasi rasa sakit dengan baik tapi di sisi lain kau hidup dalam kenangan dan rasa sakit itu sendiri.’

‘Ah…. Jadi kau melihatnya seperti itu?’ Ji tertawa kecil. ‘Aku baik-baik saja, aku menikmatinya.’

Yuan menghela napas, diakui atau tidak ia prihatin terhadap sahabatnya, kenapa ia memilih jalan ini?

‘Sampai kapan kau akan terus begini?’ tanyanya.

‘Maksudnya?’

‘Menggunakan rasa sakitmu sebagai kekuatan untuk hidup.’

Ji tersenyum sebelum menjawab;

‘Kau tahu semua hal yang terjadi pada diri kita sebenarnya tidak ada yang buruk, hanya tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Tentu, amat sangat menyakitkan ketika kau kehilangan seseorang, apalagi seseorang yang seharusnya menjadi putra pertamamu. Kau tidak akan pernah bisa membayangkannya. Berulang kali bertanya pada diriku sendiri, apa yang harus kulakukan? Kenapa? Kenapa Tuhan mengambilnya disaat aku sangat membutuhkan dia untuk menyelamatkan pernikahan kami. Apa salahku?

‘Tapi kemudian aku sadar, inilah yang terbaik, coba bayangkan apa yang akan terjadi jika ia lahir, lalu, belum genap ia berusia tiga tahun dan orang tuanya bercerai. Disaat ia membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, ia hanya mendapat dari satu sisi. Bagus kalau tidak ada efek negatif untuk psikologisnya kelak, bagaimana jika ia sampai trauma atau semacamnya? Bukankah itu lebih menakutkan?’

‘Mungkin saja jika ia lahir, pernikahanmu akan punya akhir yang berbeda,’ kata Yuan.

‘Dan membuatnya terpaksa tinggal hanya karena anak? Tidak terima kasih.’ Ji menggeleng. ‘Kalau dia ingin tinggal, aku ingin karena memang dia benar-benar ingin tinggal bukan tinggal karena sesuatu. Bagiku, sebelum memberi anak kebahagiaan, orang tua haruslah bahagia terlebih dulu, kalau tidak, bagaimana mereka akan tahu perasaan seperti apa yang hendak mereka berikan pada anaknya?

‘Aku merasa dengan begini aku bisa tumbuh bersamanya, melihat ibu-ibu muda begitu bahagia dan puas ketika melihat anak-anak mereka terlihat cantik dan tampan dengan memakai rancanganku, itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga untukku. Aku merasa melihat anakku sendiri memakai baju-baju yang kubuat.’

‘Benar juga,’ Yuan menarik tubuhnya dan bersandar di sandaran kursi. ‘Tapi Ji, sudah lima tahun, kau masih belum merelakannya juga?’

‘Siapa bilang?’ Ji bertanya balik. ‘Darimana kau dapat ide kalau aku belum merelakannya?’

‘Hari-hari kau mengurung diri di sini, tidak berkencan, tidak membuka diri—‘

‘Itu!’ seru Ji seraya menunjuk Yuan. ‘Tuduhan yang salah dan tidak berdasar. Aku mengurung diri di sini bukan berarti aku tidak membuka diri.’

Yuan nyaris meloncat begitu mendengar pembelaan diri Ji.

‘Apa ini? Kau berkencan dengan siapa? Apa aku tahu orangnya?’ berondong Yuan. Ji tidak menjawab dan hanya tersenyum jahil. ‘Ah…. Nggak seru nih, pelit amat, pakai rahasiaan segala.’ Ji tertawa. ‘Inilah yang paling aku suka dari dirimu adalah sikap positifmu Ji.’

‘Tuhan sayang pada orang-orang yang berpikir positif. Negativity nggak akan membawamu kemana-mana,’ Ji tertawa makin lebar.

‘Betul, betul,’ Yuan mengangguk setuju. ‘Jadi…. Kapan nih aku dikenalin?’

Lagi-lagi Ji tidak menjawab, ia meraih botol air putih dan mengedipkan sebelah matanya.

‘Terlalu banyak ingin tahu itu nggak baik Yu,’

 


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Author @StorialCo and AsianFanfiction. Founder Mr. Galaxy Fanfan House and CNBOICE, co Admin @Indonesianboice. Find my books The Stars | In Between | Through the Lens | Burning Melody at nulisbuku.com Find me @lanhudiee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s