Posted in bahasa, short story

Kupu-Kupu Kertas

69

Reva baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, ketika ponselnya berdering. Dari Resti. Ada apa Resti menelepon tengah malam begini?

‘Halo Rev, ayah pulang malam ini, kamu ke sini ya?’ pinta Resti begitu Reva menjawab “Halo”.

Kening Reva berkerut. ‘Tapi ini udah lebih dari tengah malam lho, besok aja ya. Pagi-pagi deh aku ke sana.’

‘Nggak nyesel nanti kamu nggak ketemu ayah. Katanya kamu pulang untuk ketemu ayah.’ Kata Resti mengingatkan “misi” kepulangan Reva dari Barcelona.

‘Yaah.. kan masih banyak waktu ini. Aku capek banget nih, baru jam setengah dua-belas tadi aku nyampe dari Surabaya.’ Ucap Reva beralasan.

Memang benar Reva baru sampai di Malang sekitar dua setengah jam yang lalu, setelah menempuh perjalanan lebih dari dua puluh jam dari Barcelona-Kuala Lumpur-Surabaya.

‘Rev, bagaimana kalau udah nggak ada waktu lagi?’ tanya Resti dengan suara pelan dan hampa.

Reva mengeryit mendengar intonasi suara Resti yang mendadak berubah.

‘Maksudmu?’ tanya Resti bingung.

‘Udahlah, kamu ke rumah sekarang. Kutunggu ya, bye.’ Kata Resti menutup teleponnya.

Ada yang tidak biasa dengan Resti. Setelah tercenung beberapa saat, Reva akhirnya mengikuti kemauan Resti. Disambarnya jaket dan kunci mobil. Angin berembus kencang begitu Reva membuka pintu gerbang depan, dirapatkan jaketnya. Kompleks perumahannya juga sangat lengang, semua orang pastinya sudah terlelap dibuai mimpi. Pak Iman, satpam di pos terheran-heran begitu mobil Reva melewatinya.

‘Mau ke mana Mbak malam-malam begini? Bukannya tadi baru saja sampai?’ tanya Pak Iman ketika membuka portal.

‘Ke rumah Pakde, Pak Iman.’ Jawab Reva sambil tersenyum.

‘Malam-malam begini!?’ tanya Pak Iman kaget.

Reva hanya mengangguk dan meringis. ‘Makasih Pak.’

‘Sama-sama. Hati hati lho Mbak.’ Pak Iman melambaikan tangan menjawab ucapan terima kasih

***

Ada yang aneh dengan rumah Resti. Dari kejauhan Reva bisa melihat jika rumah itu masih terang benderang, kelihatannya ramai pula! Mendadak ada suatu perasaan takut yang mendesak di dadanya. Semoga jangan! Ini tidak boleh terjadi. Benar saja, gejolak dihatinya juga semakin terasa begitu Reva memarkir mobilnya di garasi samping rumah. Mobilnya Pakde ataupun Resti sendiri tidak ada, garasi kosong. Dari jauh dia sempat melihat nenek yang berjalan lunglai.

Jantung Reva berdetak semakin cepat. Resti menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan seperti biasanya. Suasana semakin aneh. Hampir semua perabotan di rumah telah disingkirkan, rumah menjadi—semakin tampak—super luas. Roni masih sibuk menggelar karpet terakhir yang ujung pintu, dia juga tersenyum lebar ke Reva, seperti biasa.

‘Kau sudah datang? Maaf ya, merepotkanmu, kata Mbak Resti kamu baru nyampe ya.’ Sapa Roni.

Satu kesamaan. Intonasi dan suara, baik Roni maupun Resti pelan dan hampa! Belum sempat Reva bertanya, sebuah ambulans memasuki halaman rumah, di belakangnya, Reva mengenali mobil Papanya, begitu juga di belakangnya lagi, ada beberapa mobil lagi.

‘Ayah datang.’ Desis Resti patah.

Sedangkan Roni sudah berlari ke depan.

Reva membeku ditampatnya berdiri, sirine ambulans itu sudah tidak berbunyi, hanya lampunya yang menyala, biru! Reva merasa seolah ada batu bata meluncur deras dari tenggorokan ke perutnya. Seluruh organ-organnya seolah ditarik keluar dari tubuhnya. Ternyata apa yang ditakutkan sejak memasuki rumah Resti menjadi kenyataan. Reva masih terpaku ketika Resti menariknya minggir. Roni, Papanya dan dua orang yang lain menggotong sesosok tubuh berbalut kain kafan yang dilapisi kain jarit batik.

Itu Pakde. Itu adalah orang yang menjadi alasan Resti buru-buru kembali ke Malang dua hari yang lalu. Tapi bukan untuk ini, bukan untuk menyaksikan tubuh itu kaku tak bergerak dan tak dapat mengenalinya lagi. Reva ke mari membawa berita gembira. Reva kemari untuk bersyukur, bukan untuk menangis.

Tidak ada yang dilakukan Reva kecuali berdiri diam tak bergerak dengan mata nanar menatap sesosok tubuh kaku itu, bahkan ketika Budhe-nya datang dan memeluknya, atau Mamanya sendiri yang menghampiri dan menyapanya. Semuanya kosong, sekarang semua usahanya selama berbulan-bulan terasa sia-sia. Reva merasa dikutuk! Reva merasa bodoh, Reva merasa tidak berguna.

Kesadaran kembali masuk ke otak Reva begitu orang-orang mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia juga baru sadar kalau dirinya hanya memakai celana pendek dan t-shirt kumal. Buru-buru dia masuk kamar Resti untuk berganti baju.

‘Budhe ingin memintakan maaf untuk Pakde.’ Kata Budhe ketika Reva selesai berganti baju dan duduk di ranjang Resti, bersebelahan dengan Budhe dan Resti.

Kedua orang itu sepertinya sudah ikhlas. Resti masih tidak menangis, Budhe matanya masih merah, tapi tidak menangis.

‘Reva yang harus minta maaf, Reva terlambat.’ Kata Reva lemah.

Dia sungguh menyesal.

Budhe menggeleng. ‘Ini yang terbaik, sekarang kau sudah tidak perlu lagi memikirkan kami, pikirkan dirimu sendiri. Itu yang Pakdhe-mu inginkan. Beliau sangat merasa bersalah padamu, karena merasa telah menjual keponakannya sendiri untuk kesembuhannya.’

Reva menoleh memandang Budhe-nya bingung.

‘Kami tahu Ellé mengeluarkan uang yang tidak sedikit selama setahun ini.’ Tambah Budhe.

Sekali lagi, ini benar. Semua biaya pengobatan Pakdhe memang Ellé—cowok Reva— yang menanggung.

‘Tapi Budhe, itu…..tapi darimana Pakdhe tahu kalau Ellé….’

‘Pakdhe-mu bukan orang bodoh, beliau juga masih bisa berfikir Va, siapa lagi yang mampu sampai berbuat seperti ini kalau bukan Ellé? Iya kan? Sudahlah, sekarang kalian tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak, kamu juga tidak perlu lagi pontang-panting mencari donor. Maaf ya sudah merepotkanmu dan Ellé.’ Kata Budhe memotong kata-kata Reva.

Resti akhirnya menemukan surat-surat pemberitahuan operasi pengangkatan sekaligus pendonoran ginjal bagi almarhum ayahnya ketika dia meminjam mobil Reva pagi harinya.
‘Jadi kamu sudah menyiapkan operasi Ayah?’ tanya Resti tiba-tiba begitu mendapati Reva masih meringkuk dikamarnya.
Reva terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia lupa kalau surat-surat itu berada di jok belakang mobilnya.
‘Kau menemukannya?’
Resti mengangguk. Reva kemudian menceritakan alasan kepulangan mendadaknya. Pihak rumah sakit sudah mendapatkan pendonor ginjal yang cocok, segala persiapan sudah dilakukan termasuk kamar. Benar-benar tinggal pergi dan operasi bisa segera di jalankan. Siapa sangka, begitu sampai di sini semuanya berubah tidak seperti yang dikiranya.

‘Jadi maksudmu, kamu ke sini untuk membawa Ayah ke Hongkong, begitu?’

Reva menggeleng, ‘Tidak, kami akan melakukannya di Singapura, lebih dekat. Tapi sekarang sudah tidak berguna kan? Pakdhe sudah pergi.’ Kata Reva patah. ‘Aku barusan membatalkannya, memberitahu mereka apa yang terjadi.’

Resti terdiam. Resti tahu kenapa Reva begitu ngotot untuk membuat ayahnya sembuh, dulu Reva pernah kehilangan Om-nya, makanya kali ini dia berusaha begitu keras untuk membuat Ayahnya sembuh. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain.

‘Ellé bagaimana? Dia juga baru saja menjalani operasikan?’ tanya Resti memecah keheningan diantara mereka.

Reva menjawab pelan. ‘Dia akan baik-baik saja, besok dia akan keluar dari rumah sakit dan mulai rehabilitasi di rumah, hanya seminggu sekali dia akan check up untuk memantau keadaannya agar bulan depan dia bisa balap lagi.’

***

Yatch itu meluncur tenang membelah lautan di lepas pantai Barcelona. Di buritan berdiri dua orang yang memandang birunya air dengan diam. Di samping cewek itu ada sebuah kotak karton besar. Angin musim semi mengibarkan syal cewek yang matanya mulai memerah. Cewek itu Reva dan cowok di sebelahnya adalah Ellé.

Perlahan dia membuka tutup kotak dan melemparkan kupu-kupu kertas hasil lipatan Resti selama Ayahnya sakit sampai beliau dipanggil Yang Maha Kuasa. Reva teringat ucapan Resti saat itu,

“Ini aku melipatnya sejak Ayah mulai sakit, harapanku selama ini sekaligus ketakutanku, kau bawalah, terserah mau kau apakan. Hanya ini yang bisa kuberikan padamu untuk semua usahamu selama ini. Semua hal yang tidak bisa kami lakukan untuk Ayah.”

Reva memandang kupu-kupu kertas yang terbang tertiup angin, kemudian terhempas ke air dengan sayu.

Diambilnya salinan puisi yang ditulis Resti untuk Ayahnya. Puisi aslinya sudah dikubur bersamaan mereka mengubur seorang yang mereka sayangi.

Tuhanku……………….
Hari ini seekor kupu-kupu telah terbang memenuhi panggilan-Mu
Dia terbang dan kembali ke surgamu
Dia kupu-kupu yang indah
Tapi kurasa dia akan lebih indah jika berada bersama-Mu
Ingin ku pergi bersamanya
Melihatnya terbang diantara bunga-bunga-Mu
Tapi belumlah tiba waktuku
Kelak jika sampai diriku dihari itu
Pertemukanlah kami kembali
Dan bersama-sama akan kami warnai taman surga-Mu
Jagalah dia seperti yang selalu Engkau janjikan

Ellé menepuk pelan bahu Reva untuk menguatkan cewek itu.

‘He’s already in a better place right now; this was the best for him. Let him flys peacefully. Everything will be alright. God, always has a new path for us and your uncle has a new life. You should happy for him.’ Kata Ellé pelan.

Reva hanya mengangguk mendengar itu.

Ya, benar, Tuhan selalu mempunyai rencana yang tidak kita ketahui. Tapi apapun itu pastilah yang terbaik untuk kita, dan jika memang kematian yang terbaik untuk Pakdhe-nya, Reva tidak akan menyesalinya, dia sudah berusaha semampunya untuk membantunya bertahan.

Selamat jalan, bisik hatinya pelan. Kupu-kupu kertas itu semakin lama semakin mengabur dan akhirnya tidak terlihat sama sekali.

In memoriam Pakdhe Wanto July 11th, 2011.

Photo credit to owner

Advertisements

Author:

Author @StorialCo and AsianFanfiction. Founder Mr. Galaxy Fanfan House and CNBOICE, co Admin @Indonesianboice. Find my books The Stars | In Between | Through the Lens | Burning Melody at nulisbuku.com Find me @lanhudiee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s